Note

Adaptasi atau Mati, Cerita Fujifilm Hadapi Krisis Akibat Digitalisasi

· Views 25

KOMPAS.com – Ketika karya fotografi mulai dijajakan kepada khalayak pada abad ke-19, kebiasaan masyarakat untuk memperoleh potret diri perlahan mulai berubah. Tak ada lagi pose berjam-jam di hadapan pelukis untuk membuat sebuah potret. Cukup berdiri sebentar di depan kamera dan menunggu fotografer menjepret, pengambilan potret pun selesai.

Lalu, perangkat kamera berkembang dan photographic film ditemukan. Pengabadian momen spesial menggunakan kamera pun menjadi kebiasaan. Di pernikahan, wisuda, atau sekadar jalan-jalan, orang-orang menenteng tustel.

Pada dekade 1990-2000, tustel analog mencapai puncak popularitas. Saat itu, gerai pencucian film—istilah yang barangkali sudah terlupakan saat ini—ramai dikunjungi untuk mencetak foto atau membeli film dan album.

Kini, teknologi semakin canggih. Tustel analog berganti digital. Gerai pencucian film yang dulunya mudah ditemukan di pinggir jalan pun semakin langka. Akan tetapi, kebiasaan mengabadikan momen tetap tumbuh subur, terlebih dengan difasilitasi oleh kamera smartphone dan media sosial.

Di sepanjang lini masa dunia fotografi, nama Fujifilm tak mungkin bisa dilepaskan begitu saja. Fujifilm yang didirikan pada 1934 merupakan salah satu dari dua perusahaan yang menguasai pangsa pasar di industri photographic film.

Baca juga: Fujifilm, Dulu dan Sekarang

Pada 2000, 60 persen penjualan Fujifilm dan 70 persen profit perusahaan disumbang dari berjualan produk photographic. Bisa dibayangkan betapa penting photographic product sebagai tulang punggung perusahaan.

Namun, selepas milenium baru, bisnis photographic film mengalami penurunan drastis. Musababnya, teknologi digital yang pada medio 1990-an masih mahal mulai terjangkau dan sudah diaplikasikan pada banyak peralatan elektronik.

Pada 2003, industri photographic film dan kamera analog memasuki senjakala. Seperti dilansir dari crm.org, Kamis (17/9/2020), gerai pencucian film mengalami penurunan omzet secara drastis, dari memproses 5.000 rol film per hari menjadi 1.000, bahkan lebih rendah lagi jika dibandingkan pada 2000.

Hal tersebut berdampak pada penjualan photographic film Fujifilm. Saat ini, photographic film menyusut hingga 1 persen dari total penjualan keseluruhan produk perusahaan.

Mitigasi krisis, inovasi, dan diversifikasi

Di awal 2000-an merupakan masa krisis bagi perusahaan-perusahaan yang selama ini mengandalkan penjualan teknologi analog. Bahkan, tidak sedikit perusahaan harus gulung tikar karena tak bisa beradaptasi dengan perubahan teknologi dan kebiasaan konsumen, termasuk Kodak—pesaing utama Fujifilm.

Disclaimer: The content above represents only the views of the author or guest. It does not represent any views or positions of FOLLOWME and does not mean that FOLLOWME agrees with its statement or description, nor does it constitute any investment advice. For all actions taken by visitors based on information provided by the FOLLOWME community, the community does not assume any form of liability unless otherwise expressly promised in writing.

FOLLOWME Trading Community Website: https://www.followme.com

If you like, reward to support.
avatar

Hot

No comment on record. Start new comment.