🇮🇩🇺🇸🇨🇳 Perang Iran sedang memberi Indonesia sebuah pelajaran, dan dampaknya bisa mengubah perdagangan Asia selamanya...
Menteri Keuangan Indonesia baru saja melontarkan ide untuk mengenakan tarif (toll) pada kapal yang melintasi Selat Malaka, dengan secara eksplisit menyebut strategi Hormuz milik Iran sebagai inspirasi:
“Jika dibagi tiga antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura, jumlahnya bisa sangat besar. Bagian kita adalah yang terbesar dan terpanjang.”
Selat Malaka adalah titik sempit (chokepoint) paling penting di dunia untuk Asia Timur. Minyak dari Timur Tengah menuju China, Jepang, dan Korea Selatan melewati jalur ini. Rantai pasok global bergantung dengan selat ini.
Dan China mendapatkan 80% impor energinya melalui jalur perairan ini.
Singapura dan Malaysia langsung menolak ide tersebut.
Namun, gagasan ini sudah terlanjur muncul ke permukaan.
Iran telah menunjukkan bahwa satu negara dengan rudal pesisir dan kapal kecil bisa “menyandera” pelayaran global.
Kini, setiap negara yang berbatasan dengan jalur sempit mulai menghitung apakah mereka bisa melakukan hal yang sama.
Gambaran strategisnya lebih jelas dari yang disadari banyak orang.
Amerika Serikat menandatangani kesepakatan kerja sama dengan Indonesia selama perang Iran.
Kerja sama militer Amerika di kawasan ini terus berkembang.
Rantai pulau pertama yang terdiri dari Jepang, Taiwan, dan Filipina memberi Washington kemampuan untuk membatasi akses China ke Selat Malaka jika diperlukan. Siapa yang menguasai chokepoint, dia menguasai distribusi sumber daya.
Itulah logika yang digunakan Trump, dan Indonesia mengamatinya dengan cermat. Ketergantungan China pada energi impor melalui jalur sempit adalah kerentanan strategis terbesarnya.
Jika ketegangan dengan AS meningkat, Washington tidak perlu menyerang Beijing. Cukup dengan mengontrol Selat Malaka.
Dan Indonesia baru saja memberi sinyal secara terbuka bahwa mereka bersedia menjadi bagian dari “ala
daniel.karta
Leave Your Message Now