- Harga CPO naik 0,41% terdorong ringgit lemah, tapi turun mingguan 0,30% karena perang Timur Tengah.
- Sawit mengikuti tren minyak nabati; minyak mentah turun, kurangi daya tarik biodiesel.
- Malaysia perkuat pasokan pupuk setelah kenaikan biaya akibat konflik dan pembatasan ekspor China.
Ipotnews - Harga minyak sawit (CPO) berjangka Malaysia menguat, Jumat, didorong depresiasi nilai ringgit, meski masih menuju penurunan mingguan pertama dalam empat pekan akibat ketidakpastian perang di Timur Tengah dan prospek minyak mentah.
Kontrak acuan sawit untuk pengiriman Juni di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 19 ringgit, atau 0,41%, menjadi 4.602 ringgit (USD1.149,06) per metrik ton pada jeda tengah hari. Sepanjang minggu ini, kontrak tersebut tercatat turun 0,30%, demikian laporan Reuters, di Kuala Lumpur, Jumat (27/3).
Menurut Paramalingam Supramaniam, Direktur Pelindung Bestari, perusahaan pialang yang berbasis di Selangor, pasar masih menimbang ketidakpastian terkait perang dan arah harga minyak mentah berikutnya, sementara pelemahan ringgit memberikan dukungan tambahan bagi harga sawit.
Di pasar global, kontrak minyak kedelai (soyoil) paling aktif Dalian menguat 0,67%, sedangkan kontrak sawitnya melonjak 1,38%. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade naik tipis 0,1%.
Harga sawit kerap mengikuti pergerakan minyak pesaingnya karena berkompetisi memperebutkan pangsa pasar minyak nabati (vegetable oil) global.
Sementara itu, harga minyak mentah melorot dan berada di jalur penurunan mingguan terdalam dalam enam bulan terakhir setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan untuk mengakhiri konflik dengan Iran berjalan baik, dan dia akan menunda serangan pada fasilitas energi negara itu selama 10 hari.
Pelemahan harga minyak mentah membuat sawit menjadi opsi yang kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Ringgit, yang menjadi patokan perdagangan sawit, melemah 0,33% terhadap dolar AS, membuat komoditas ini lebih murah bagi pembeli dengan mata uang asing.
Malaysia, salah satu eksportir sawit terbesar dunia, menerapkan langkah-langkah untuk memperkuat pasokan pupuk setelah konflik Timur Tengah dan pembatasan ekspor dari China mendorong kenaikan biaya bahan baku serta menyebabkan krisis pasokan domestik, kata pihak berwenang. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now