- Brent menembus USD100l karena Iran berjanji menutup Selat Hormuz, memicu kekhawatiran gangguan pasokan.
- WTI naik hampir 10%, sementara serangan terhadap kapal tanker menambah ketegangan di Teluk Persia.
- Pelepasan cadangan minyak darurat IEA dianggap tidak cukup, sehingga pasar memperkirakan harga tetap tinggi.
Ipotnews - Harga minyak mengakhiri sesi Kamis sedikit di atas USD100 per barel setelah Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, berjanji akan tetap menutup Selat Hormuz. Langkah ini menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak berkepanjangan.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melambung 9,22% atau USD8,48, menjadi USD100,46 per barel, mencatat setelmen di atas USD100 untuk pertama kalinya sejak Agustus 2022, demikian laporan CNBC , di New York, Kamis (12/3) atau Jumat (13/3) pagi WIB.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, melesat 9,72% atau USD8,48 menjadi USD95,73 per barel.
Mojtaba, putra Ayatollah Ali Khamenei yang tewas akibat serangan awal Amerika dan Israel, mengeluarkan pernyataan ini di tengah serangan berkelanjutan terhadap kapal komersial di Teluk Persia.
Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan Angkatan Laut Amerika Serikat belum siap mengawal kapal tanker melewati Selat Hormuz. Fokus militer AS saat ini adalah menghancurkan kemampuan ofensif Iran.
Selama semalam, dua kapal tanker minyak dan satu kapal kargo diserang di perairan Irak dan Uni Emirat Arab, menurut otoritas setempat. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia ke pasar global.
Serangan ini terjadi setelah International Energy Agency mengumumkan pelepasan cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarah.
Namun, pasar menanggapi langkah ini dengan skeptis, karena jumlah cadangan yang dilepaskan diperkirakan tidak cukup untuk menutupi kekurangan pasokan akibat penutupan Selat tersebut.
Analis MST Marquee, Saul Kavonic, menyatakan pelepasan cadangan IEA akan menambah pasokan yang dibutuhkan, tetapi hanya menutupi seperempat dari kekurangan akibat penutupan Selat Hormuz. Menurutnya, keputusan IEA juga menunjukkan risiko kekurangan minyak yang serius, mengindikasikan pasar tidak percaya konflik ini akan segera berakhir dan cadangan yang digunakan saat ini harus diganti kemudian, yang berarti harga minyak kemungkinan tetap tinggi bahkan setelah perang usai.
Salah satu faktor yang membuat pasar tetap gelisah adalah ketidakpastian seberapa cepat cadangan minyak akan masuk ke pasar. Meski pengumuman IEA merupakan intervensi yang belum pernah terjadi sebelumnya, lembaga tersebut tidak merinci jadwal pelepasan tiap negara maupun distribusinya. Menteri Energi Wright mengatakan Amerika Serikat akan membutuhkan 120 hari untuk menyelesaikan pelepasan cadangan minyaknya.
Cadangan strategis dipegang secara terpisah oleh masing-masing negara anggota IEA, sehingga kendala teknis dan logistik dapat memperlambat aliran minyak ke pasar. Pavel Molchanov, analis Raymond James, memperkirakan minyak baru akan mulai berpengaruh ke pasar dalam 60 hingga 90 hari, bukan sebagai bantuan instan yang diharapkan para trader.
Molchanov menekankan, meski angka 400 juta barel terdengar besar, gangguan pasokan saat ini adalah yang terbesar sejak setidaknya tahun 1970-an, sehingga pasar membutuhkan minyak lebih banyak dan dengan cepat untuk menstabilkan pasokan. ( CNBC /AI)
Sumber : Admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now