- Bank Indonesia diperkirakan terus melakukan intervensi untuk menjaga rupiah tetap di bawah level psikologis 17.000 per dolar AS di tengah penguatan dolar dan volatilitas harga minyak.
- Konflik Timur Tengah dan lonjakan harga energi meningkatkan risiko inflasi serta menekan sentimen terhadap ekonomi Indonesia.
- Tekanan rupiah juga diperparah memburuknya sentimen investor setelah peringatan lembaga pemeringkat dan pelemahan tajam IHSG sejak awal tahun.
Ipotnews - Bank sentral Indonesia diperkirakan akan terus mempertahankan nilai tukar rupiah di sekitar ambang penting di tengah volatilitas harga minyak, penguatan dolar AS, dan arus modal keluar yang dipicu konflik Iran yang meningkatkan kekhawatiran terhadap daya tarik investasi Indonesia.
Sejumlah analis memperkirakan, Bank Indonesia akan terus melakukan intervensi untuk menjaga rupiah tetap di bawah level psikologis 17.000 per dolar AS.
Ketidakpastian mengenai lamanya perang di Timur Tengah bakal berlangsung menambah tekanan terhadap kondisi ekonomi Indonesia yang sudah menghadapi berbagai tantangan. Harga minyak yang tinggi berpotensi memicu inflasi di Indonesia sebagai pengimpor bersih minyak.
Tekanan terhadap rupiah menyoroti meningkatnya risiko bagi perkonomian, di mana pelemahan mata uang yang berkepanjangan dapat membebani indikator fiskal dalam beberapa bulan mendatang.
Adanya peringatan dari lembaga pemeringkat mengenai arah ekonomi Indonesia, menuntut kemampuan BI dalam menstabilkan rupiah dinilai krusial untuk memulihkan kepercayaan investor.
"Penguatan dolar dan sentimen pasar yang lemah kini lebih membebani rupiah, dan Bank Indonesia kemungkinan akan berupaya kuat mempertahankan level 17.000," kata Lloyd Chan, ahli strategi mata uang di MUFG Bank Ltd.
"Ini penting untuk menjaga sentimen pasar dan mencegah memburuknya neraca eksternal secara tajam," imbuhnya seperti dikutip Bloomberg, Selasa (10/3). Rupiah ditutup di level 16.945 per dolar AS pada Senin.
Sejak akhir 2024, BI telah meningkatkan upaya untuk menstabilkan rupiah. Langkah tersebut dilakukan dengan menjual dolar AS dari cadangan devisa untuk membeli rupiah, membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder, serta menggunakan kontrak non-deliverable forward guna membentuk ekspektasi pasar.
Namun, intervensi lebih lanjut mungkin sulit dipertahankan mengingat cadangan devisa yang relatif terbatas, kata Manthan Shingala, analis di Nomura Singapore Ltd. Ia memperkirakan rupiah berpotensi melemah hingga sekitar 17.200 per dolar AS pada akhir bulan.
Data Bank Indonesia menunjukkan cadangan devisa turun menjadi USD151,9 miliar pada Februari, penurunan bulanan terbesar sejak April.
Sentimen investor memang sudah memburuk sejak awal tahun. MSCI Inc memperingatkan kemungkinan penurunan status pasar Indonesia akibat masalah likuiditas dan rendahnya porsi saham beredar ( free float ). Sementara itu, Moody's Ratings dan Fitch Ratings juga menurunkan prospek kredit Indonesia terkait arah kebijakan dan kondisi fiskal.
Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) telah merosot lebih dari 15% sepanjang tahun ini sehingga menjadi salah satu pasar saham dengan kinerja terburuk di dunia.
"Katalis utama bagi pemulihan yang lebih kuat adalah respons positif MSCI terhadap reformasi struktural yang dilakukan Bursa Efek Indonesia untuk meningkatkan likuiditas pasar dan free float," ujar Mohit Mirpuri, mitra senior di SGMC Capital Pte kepada Bloomberg.
Harga minyak turun pada Selasa setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan konflik dengan Iran akan selesai "sangat segera", meredakan kekhawatiran gangguan pasokan. Rupiah sebelumnya sempat menyentuh rekor terlemah di level 17.015 per dolar AS pada Senin sebelum memangkas pelemahan, seiring penguatan dolar dan lonjakan harga minyak ke level tertinggi dalam beberapa tahun. Sementara itu, pasar saham berada dekat wilayah bear market dan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun melonjak, menambah tekanan bagi pembuat kebijakan.
Bank Indonesia telah berjanji melakukan "intervensi yang tegas dan konsisten" di pasar valas domestik maupun luar negeri untuk menahan tekanan terhadap rupiah. Jika tekanan global terus berlanjut, para analis menilai pembuat kebijakan kemungkinan akan lebih berhati-hati agar ruang intervensi tetap tersedia dalam jangka panjang. (Bloomberg/AI)

Sumber : Admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now