Sawit Terus Menguat, Ditopang Tensi Timur Tengah dan Kenaikan Harga Energi

avatar
· Views 641
  • Harga CPO naik 1,51%, dipicu harga minyak nabati dan ketegangan Timur Tengah.
  • Kenaikan harga minyak mentah dorong sawit untuk biodiesel, Indonesia naikkan bea ekspor CPO.
  • Ekspor CPO Indonesia melambung 77%, Malaysia turun 21,5%.

Ipotnews - Harga minyak kelapa sawit (CPO) berjangka Malaysia melesat untuk kedua berturut-turut, Senin, mencatat level tertinggi dalam seminggu. Kenaikan ini didorong penguatan harga minyak nabati Dalian dan Chicago, serta dukungan dari lonjakan harga energi yang terpengaruh ketegangan di Timur Tengah.
Kontrak berjangka minyak kelapa sawit untuk pengiriman Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange menguat 61 ringgit, atau sekitar 1,51%, menjadi 4.103 ringgit (USD1.051,24) per ton metrik pada jeda tengah hari, demikian laporan  Reuters,  di Jakarta, Senin (2/3).
Trader yang berbasis di Kuala Lumpur mengungkapkan bahwa, "CPO berjangka Bursa Malaysia dibuka lebih tinggi, seiring dengan pergerakan harga minyak nabati pesaing."
Dia menambahkan, sentimen pasar semakin didorong lompatan harga energi, yang semakin diperparah oleh ketegangan yang semakin memanas di Timur Tengah. "Kekhawatiran terkait pasokan semakin intens, mengingat eskalasi serangan antara Iran dan Israel yang mengancam salah satu koridor energi paling penting di dunia," kata dia.
Di bursa Dalian, kontrak minyak kedelai yang paling aktif menguat 0,29%, sementara kontrak minyak sawitnya melambung 1,55%. Di Chicago Board of Trade ( CBOT ), harga minyak kedelai melejit 1,99%.
Harga sawit sering kali mengikuti pergerakan minyak pesiang lainnya karena berkompetisi di pasar minyak nabati (vegetable oil) global.
Pada saat yang sama, harga minyak mentah melambung ke level tertinggi sejak Januari 2025, didorong eskalasi serangan yang merusak tanker dan mengganggu pengiriman dari wilayah penghasil utama, khususnya di Timur Tengah.
Lonjakan harga minyak mentah ini menjadikan sawit sebagai pilihan yang lebih menarik untuk bahan baku biodiesel.
Sementara itu, Indonesia, produsen sawit terbesar di dunia, menaikkan bea ekspor untuk CPO menjadi 12,5% dari harga referensi minyak sawit, meningkat dari sebelumnya 10%. Langkah ini dilakukan untuk mendanai kewajiban pencampuran biodiesel yang ditetapkan pemerintah.
Di sisi lain, ekspor produk minyak sawit Malaysia anjlok 21,5% pada Februari, dengan total ekspor mencapai 1.149.063 ton metrik dibandingkan 1.463.069 ton yang dikirim pada Januari, menurut laporan dari lembaga pengujian kargo, Intertek Testing Services.
Di Indonesia, ekspor CPO dan olahannya mencapai 2,24 juta ton pada Januari, melesat 77,07% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan nilai ekspor mencapai USD2,29 miliar, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik.
Menurut analis teknikal Reuters, Wang Tao, harga sawit diperkirakan menguji level resistance di 4.111 ringgit per ton metrik. Jika harga berhasil menembus level ini, ada peluang untuk melonjak lebih jauh menuju kisaran 4.168 hingga 4.193 ringgit. (Reuters/AI)

Sumber : Admin

Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.
Reply 0

Leave Your Message Now

  • tradingContest