- Konflik Iran ganggu Selat Hormuz, jalur utama 20% LNG dunia.
- Asia berebut pasokan, harga LNG melonjak cepat.
- Risiko meluas: produksi terganggu, harga energi global naik.
Ipotnews - Pasar energi global menghadapi potensi guncangan terbesar sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, seiring meningkatnya konflik di Iran yang berdampak langsung pada jalur distribusi gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dunia.
Ketegangan yang memanas membuat Selat Hormuz--jalur pelayaran paling vital bagi pengiriman LNG global--nyaris lumpuh total. Jalur sempit tersebut selama ini menjadi arteri utama bagi sekitar 20% pasokan LNG dunia, khususnya dari Qatar, demikian laporan Investing, Minggu (1/3).
Data pelacakan kapal menunjukkan sedikitnya 11 kapal tanker LNG besar menghentikan perjalanan mereka. Sejumlah perusahaan pelayaran raksasa Jepang, seperti Nippon Yusen dan Mitsui OSK Lines, bahkan menginstruksikan armadanya untuk menunggu di perairan aman.
Media pemerintah Iran menyebut Selat Hormuz kini "secara praktis tertutup", menciptakan hambatan besar bagi distribusi energi global. Berbeda dengan minyak, pasokan LNG dari Qatar tidak memiliki jalur alternatif yang fleksibel karena tidak dapat dengan mudah dialihkan melalui jaringan pipa.
Asia di Garis Depan Krisis
Dampak paling cepat terasa di Asia, kawasan yang sangat bergantung pada impor LNG dari Qatar. Negara-negara seperti China, India, dan Jepang dilaporkan tengah berlomba mencari pasokan alternatif dalam waktu singkat.
Pelaku pasar menyebut aktivitas pembelian dilakukan secara "panik" untuk mengamankan kargo tambahan (gap cargo). Namun, kondisi pasar yang sudah ketat membuat lonjakan harga di pasar spot hampir tak terhindarkan.
Kenaikan harga ini berpotensi menghapus stabilitas harga energi yang terjaga selama setahun terakhir hanya dalam hitungan hari.
Tak hanya itu, tekanan juga merambat ke kontrak jangka panjang. Banyak kontrak LNG global masih mengacu pada harga minyak mentah, sehingga lonjakan harga minyak Brent akan secara langsung meningkatkan biaya gas bagi rumah tangga dan sektor industri.
Risiko Produksi dan Efek Domino Global
Krisis ini juga memicu risiko serius pada sisi produksi. Fasilitas LNG membutuhkan arus pengiriman yang stabil untuk menjaga sistem pendingin tetap beroperasi. Jika ekspor terhenti, negara produsen utama seperti Qatar dan Uni Emirat Arab berpotensi harus menghentikan produksi.
Dampak lanjutan mulai terasa di berbagai wilayah lain. Di kawasan Mediterania, penutupan ladang gas Israel serta ancaman terhadap aliran gas Iran ke Turki memperburuk situasi pasokan.
Akibatnya, negara-negara seperti Mesir terpaksa beralih ke pasar LNG global yang jauh lebih mahal.
Kondisi ini menciptakan persaingan ketat atau "perang penawaran" untuk mendapatkan sisa pasokan LNG yang tersedia. Situasi tersebut memastikan bahwa, baik konflik tetap terbatas maupun meluas, dampak ekonominya akan dirasakan oleh konsumen di seluruh dunia. (Investing/AI)
Sumber : Admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now