- Harga Brent dan WTI melonjak lebih dari 2% akibat ketidakpastian hasil perundingan nuklir AS-Iran.
- Pasar memasukkan premi risiko geopolitik US$8-US$10 per barel karena potensi gangguan pasokan di Selat Hormuz.
- OPEC + berpeluang menaikkan produksi 137.000 barel per hari pada April.
Ipotnews - Harga minyak naik sekitar 2% pada Jumat (27/2). Para pelaku pasar bersiap menghadapi potensi gangguan pasokan karena perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran belum mencapai kesepakatan.
Kontrak berjangka Brent ditutup di US$72,48 per barel, naik US$1,73 atau 2,45%. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir di US$67,02 per barel, naik US$1,81 atau 2,78%.
Kedua pihak sepakat memperpanjang negosiasi tidak langsung hingga pekan depan. Namun para pedagang semakin skeptis bahwa kesepakatan antara pemerintahan Presiden AS Donald Trump dan Iran dapat tercapai.
"Kemungkinan Iran akan menyetujui apa yang diinginkan pemerintahan Trump tampaknya tidak mungkin," kata Phil Flynn, analis senior Price Futures Group. "Harus ada akhir dari ini dan pasar tampaknya berpikir kita menuju ke sana."
Brent dan WTI diperdagangkan pada level tertinggi masing-masing sejak Juli dan Agustus, serta berada di jalur kenaikan mingguan jauh di atas 1%.
"Ketidakpastian masih mendominasi, ketakutan mendorong harga naik hari ini," kata Tamas Varga, analis minyak di pialang PVM. "Ini sepenuhnya didorong oleh hasil perundingan nuklir Iran dan kemungkinan aksi militer yang mungkin diambil AS terhadap Iran."
Amerika Serikat dan Iran menggelar pembicaraan tidak langsung di Jenewa pada Kamis setelah Trump memerintahkan peningkatan kekuatan militer di kawasan tersebut.
Harga minyak naik lebih dari US$1 per barel selama pembicaraan berlangsung, setelah laporan media menyebut diskusi terhenti akibat desakan AS agar Iran menghentikan sepenuhnya pengayaan uranium. Namun harga kemudian sedikit mereda setelah mediator Oman mengatakan kedua pihak telah membuat kemajuan.
Mereka berencana melanjutkan negosiasi dengan pembahasan tingkat teknis yang dijadwalkan pekan depan di Wina, kata Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi di X.
"Kami menilai putaran pembicaraan terbaru memberi harapan terhadap peluang resolusi damai, namun serangan militer sama sekali belum keluar dari opsi," kata analis DBS Suvro Sarkar.
Trump pada 19 Februari mengatakan Iran harus mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya dalam 10 hingga 15 hari atau "hal yang sangat buruk" akan terjadi.
Premi risiko geopolitik sebesar US$8 hingga US$10 per barel telah tercermin dalam harga minyak akibat kekhawatiran konflik akan mengganggu pasokan Timur Tengah melalui Strait of Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak global, kata Sarkar.
Untuk meredam dampak potensi serangan, produsen minyak UEA Abu Dhabi bersiap mengekspor lebih banyak minyak andalan Murban pada April, menurut dua sumber perdagangan pada Jumat. Awal pekan ini, sumber lain mengatakan Arab Saudi juga akan meningkatkan produksi minyak.
Selain itu, Arab Saudi kemungkinan menaikkan harga minyak mentah April untuk Asia untuk pertama kalinya dalam lima bulan karena meningkatnya permintaan dari India untuk menggantikan pasokan Rusia, dengan potensi kenaikan sekitar US$1 per barel.
Kelompok produsen OPEC + diperkirakan akan mempertimbangkan kenaikan produksi sebesar 137.000 barel per hari untuk April dalam pertemuan 1 Maret, setelah sebelumnya menangguhkan peningkatan produksi pada kuartal pertama.
(reuters)
Sumber : admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now