Minyak Bertahan di Posisi Puncak 6 Bulan, Tarif AS dan Negosiasi Nuklir Jadi Fokus

avatar
· Views 890
  • Harga minyak turun, namun masih di level tertinggi 6 bulan.
  • Pasar fokus pada negosiasi nuklir AS-Iran dan risiko konflik.
  • Ketidakpastian tarif Trump serta faktor cuaca AS turut membayangi pasar.

Ipotnews - Harga minyak sedikit melemah, Senin, namun tetap bertahan di level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Pasar mencermati perkembangan pembicaraan nuklir antara Amerika dan Iran, serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi akibat kebijakan tarif terbaru Presiden Donald Trump.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup turun 27 sen atau 0,38% menjadi USD71,49 per barel, demikian laporan  Reuters,  di New York, Senin (23/2) atau Selasa (24/2) pagi WIB.
Sementara, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melemah 17 sen atau 0,26% menjadi USD66,31 per barel.
Fokus pasar tertuju pada putaran ketiga perundingan nuklir antara AS dan Iran yang dijadwalkan berlangsung pekan ini di Jenewa. Iran disebut bersedia memberikan konsesi terkait program nuklirnya, dengan imbalan pencabutan sanksi serta pengakuan atas haknya untuk memperkaya uranium.
Utusan Amerika, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dijadwalkan bertemu delegasi Iran pada Kamis. Analis Price Futures Group, Phil Flynn, menilai sinyal tersebut menunjukkan keterbukaan Iran untuk bernegosiasi, meskipun risiko konflik militer masih tetap tinggi.
Kekhawatiran terhadap potensi konflik antara AS dan Iran sebelumnya sempat mendorong harga Brent melejit lebih dari 5% dalam sepekan terakhir, mencapai level tertinggi sejak Juli 2025 di USD72,34 per barel.
Di sisi lain, sentimen pasar juga dibayangi ketidakpastian kebijakan tarif Presiden Trump. Putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatalkan sebagian kebijakan tarif memicu kebingungan di kalangan investor dan pelaku usaha.
Direktur Mizuho, Bob Yawger, menyebut ketidakjelasan arah kebijakan tarif membuat pasar sulit memproyeksikan kondisi ke depan. Dia bahkan menilai kebijakan tarif berpotensi menjadi "bencana" dalam jangka pendek karena minimnya kepastian.
Badan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS menyatakan akan menghentikan pemungutan tarif tertentu mulai Selasa dini hari. Namun, Trump justru mengumumkan rencana menaikkan tarif impor sementara dari 10% menjadi 15% untuk semua negara, menambah ketidakpastian baru di pasar global.
Dari sisi domestik Amerika, faktor cuaca juga turut memengaruhi pasar energi. Badai musim dingin yang melanda wilayah timur laut AS mendorong kenaikan margin minyak solar (diesel crack spread) sekitar 5% pada perdagangan Senin. (Reuters/AI)

Sumber : Admin

Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.
Reply 0

Leave Your Message Now

  • tradingContest