Pasar Domestik masih Sensitif terhadap Berita Utama, Strategi Defensif Disarankan - Ashmore

avatar
· Views 2,264
  • Putusan Mahkamah Agung terkait tarif "Liberation Day" berakhir sebagai kekalahan bagi Trump,.namun Trump kemudian berencana menerapkan tarif global 10%.
  • Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran meningkat meski belum terjadi eskalasi konflik, namun premi risiko meningkat.
  • Arus dana asing mulai kembali ke pasar saham Indonesia, namun pelaku pasar masih menanti perkembangan reformasi struktural pasar modal.

Ipotnews - Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan ketiga Februari 2025, Jumat (20/2), dengan mencatatkan pelemahan tipis IHSG sebesar 0,03% di posisi 8.271, namun masih sedikit lebih besar dari pekan sebelumnay di posisi 8.212. Investor asing membukukan arus masuk ekuitas senilai USD108 juta sepanjang pekan.
 Weekly Commentary , PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat beberapa peristiwa penting yang terjadi sepanjang pekan, antara lain
Pasar Domestik masih Sensitif terhadap Berita Utama, Strategi Defensif Disarankan - Ashmore
Apa yang terjadi pekan ini?
Ashmore mencatat sektor dengan kinerja terbaik pekan ini adalah Transportasi & Logistik (+4,12%) serta Bahan Baku (+3,22%), sementara sektor Properti & Real Estat dan Kesehatan masing-masing turun 0,79% dan 0,16%.
Komoditas dengan performa terbaik adalah minyak mentah (+5,23%) dan harga CPO (+3,16%), sedangkan Bitcoin dan Hang Seng Index masing-masing mengalami koreksi 0,98% dan 0,58% .
Di AS, defisit perdagangan melebar lebih besar dari perkiraan akibat penurunan ekspor dan kenaikan impor, terutama aksesori komputer. Klaim pengangguran mingguan turun dan lebih baik dari ekspektasi.
Kanada masih mencatat inflasi relatif tinggi karena efek basis rendah tahun lalu, meski sedikit di bawah ekspektasi, sementara inflasi inti turun ke level terendah sejak Agustus.
Di kawasan Eropa, sentimen ekonomi lebih rendah dari perkiraan, tetapi indeks kepercayaan konsumen membaik dibanding bulan sebelumnya. Jerman mencatat tren serupa dengan sentimen ekonomi yang melemah, namun sektor manufaktur justru mencatat ekspansi pertama sejak Juni 2022, berlawanan dengan ekspektasi kontraksi lanjutan.
Di Asia, Jepang membukukan inflasi utama yang lebih rendah dari perkiraan dan menjadi yang terendah sejak Maret 2022, dengan perlambatan harga pangan termasuk beras. Inflasi inti juga menurun dan sesuai ekspektasi.
"Indonesia mempertahankan suku bunga acuan untuk kelima kalinya secara berturut-turut, sejalan dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar serta keseimbangan inflasi dan pertumbuhan," tulis Ashmore.
Volatilitas global berlanjut
Pekan ini, Ashmore melihat putusan Mahkamah Agung terkait tarif "Liberation Day" berakhir sebagai kekalahan bagi Trump. Namun Trump kemudian berencana menerapkan tarif global 10% berdasarkan Section 232 dan Section 301.
"Kabar tersebut menurunkan ekspektasi inflasi di AS sehingga mendorong pasar saham AS, tetapi memberi tekanan pada dolar AS dan obligasi Treasury," papar Ashmore. Indeks DXY sempat turun di bawah 97,6, imbal hasil UST tenor 10 tahun terkoreksi ke sekitar 4,1% dan UST tenor 2 tahun mendekati 3,5%, di tengah kekhawatiran kondisi fiskal AS.
Sementara itu ketegangan geopolitik antara AS dan Iran meningkat menyusul berbagai perkembangan terbaru. Meski belum terjadi eskalasi konflik, premi risiko meningkat. Selat Hormuz, jalur perdagangan vital khususnya untuk minyak, sempat ditutup sementara untuk latihan tembak.
"Tekanan meningkat karena AS mendorong Iran mencapai kesepakatan program nuklirnya, dengan pengerahan militer terbesar sejak 2003 di kawasan tersebut," Ashmore menambahkan.
Meski konsensus masih memandang tidak ada konflik sebagai skenario dasar, pasar tetap mencermati perkembangan. Harga minyak naik akibat kekhawatiran pasokan, sementara selera risiko menjadi lebih defensif. "Eskalasi konflik berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global seiring pergerakan harga minyak," sebut Ashmore.
Di dalam negeri, Ashmore menggarisbawahi pekan perdagangan pekan ini yang lebih singkat. Arus dana asing mulai kembali ke pasar saham, namun pelaku pasar masih menanti perkembangan reformasi struktural pasar modal Indonesia.
Sejauh ini otoritas telah mengumumkan inisiatif seperti publikasi daftar konsentrasi pemegang saham agar selaras dengan standar global. Bursa diharapkan mengungkap pemegang saham dengan kepemilikan minimal 1% di situs resminya pada akhir Februari, serta menerapkan klasifikasi yang lebih rinci dan jelas pada akhir Maret guna meningkatkan transparansi.
Sementara itu, Bank Indonesia kembali mempertahankan suku bunga acuan, dengan penekanan pada stabilitas nilai tukar dan keseimbangan inflasi-pertumbuhan. "Dalam kondisi saat ini, BI kemungkinan tetap berhati-hati hingga risiko eksternal dan domestik mereda serta transmisi suku bunga membaik," ungkap Ashmore.
Secara keseluruhan, Ashmore berpendapat, pasar domestik masih sensitif terhadap berita utama. Namun, sikap otoritas jelas mendukung saham yang likuid, transparan, dan memiliki fundamental kuat dibandingkan saham spekulatif. "Dalam kondisi ini, strategi defensif tetap disarankan, terutama pada reksa dana obligasi berdurasi pendek dan reksa dana saham yang dikelola aktif." (Ashmore)
Pasar Domestik masih Sensitif terhadap Berita Utama, Strategi Defensif Disarankan - Ashmore

Sumber : Admin

Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.
Reply 0

Leave Your Message Now

  • tradingContest