Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto buka suara terkait penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PT Pan Brothers Tbk dan Ravel Holding Inc yang dinilai berpotensi membuka keran impor pakaian bekas di pasar domestik Indonesia.
Ia menjelaskan MoU yang terjalin dalam rangkaian Business Summit di Washington D.C pada Rabu (18/2) kemarin tak membuat Pan Brothers diperbolehkan melakukan impor pakaian bekas jadi alias thrifting dari Ravel. Melainkan produk yang akan diimpor dari AS adalah pakaian bekas yang sudah dicacah (shradded).
"Kalau Pan Brothers itu manufacturing, jadi manufacturing itu bukan thrifting," katanya dalam konferensi pers yang dilakukan secara online, Jumat (20/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya pakaian bekas yang sudah dicacah itu akan dimanfaatkan oleh Pan Brothers sebagai bahan baku produksi yang menghasilkan produk baru.
"Jadi manufacturing adalah memproses baik berbasis cotton ataupun polyester recycle. Tidak ada bicara thrifting," tegas Airlangga.
Untuk diketahui, sebelumnya perwakilan dunia usaha Indonesia dan Amerika Serikat telah menandatangani 11 MoU dalam acara Business Summit di US Chamber of Commerce di Washington DC, pada Rabu (18/2) waktu setempat. MoU ini merupakan bagian tak terpisahkan dari kesepakatan dagang resiprokal ini.
"Kemarin telah ditandatangani 11 Memorandum of Understanding, baik itu dari segi perdagangan yang merupakan turunan daripada agreement untuk reciprocal trade. Untuk pembelian energi, pembelian agriculture, dan juga untuk pembelian lain," kata Airlangga.
Di mana satu dari 11 nota kesepahaman yang ditandatangani dalam kesempatan itu adalah MoU tentang Shredded Worn Clothing antara Asosiasi Garment dan Textile Indonesia, PT Pan Brothers dan Ravel, ditandatangani oleh CEO PT PAN Brothers Ludijanto Setijo dan CEO Ravel Zahlen Titcomb.
Selain MoU antara Pan Brothers dan Ravel ini, nota kesepahaman yang ditandatangani menyangkut berbagai jenis sektor mulai dari pertambangan dan hilirisasi, energi, agribisnis, tekstil dan garmen, hingga manufaktur furnitur dan pengembangan teknologi.
Nilai total kerja sama yang ditandatangani mencapai US$ 38,4 miliar atau setara dengan Rp 648,9 triliun (asumsi kurs Rp 16.900) yang ditargetkan mampu mendorong pertumbuhan investasi lintas sektor, khususnya pangan, industri, energi, dan teknologi.
(igo/fdl)Reprinted from detik_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Leave Your Message Now