- Harga emas turun lebih dari 2% akibat meredanya permintaan safe-haven seiring kemajuan negosiasi AS-Iran dan pembicaraan damai Ukraina-Rusia.
- Penguatan dolar AS serta minim sentimen positif baru menambah tekanan pada harga logam mulia.
- Pasar menunggu risalah the Fed dan data inflasi PCE AS sebagai petunjuk arah suku bunga.
Ipotnews - Harga emas merosot lebih dari 2%, Selasa, dipicu berkurangnya permintaan aset safe-haven setelah muncul tanda-tanda kemajuan dalam perundingan antara Amerika dan Iran, sementara penguatan dolar AS menambah tekanan jual di pasar logam mulia.
Emas spot anjlok 2,2% menjadi USD4.884,46 per ons pada pukul 01.30 WIB, sementara harga emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman April ditutup melorot 2,8% ke level USD4.905,90 per ons, demikian laporan Reuters, di Bengaluru, Selasa (17/2) atau Rabu (18/2) dini hari WIB.
Penguatan Indeks Dolar AS (Indeks DXY) yang naik 0,3% terhadap sekeranjang enam mata uang utama membuat emas yang dihargakan dalam greenback menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri, sehingga menekan permintaan.
Analis Kitco Metals, Jim Wyckoff, mengatakan pasar emas saat ini kekurangan sentimen fundamental positif baru yang mampu mendorong harga lebih tinggi. Menurutnya, bull market membutuhkan katalis baru secara berkala, sementara belakangan tidak ada perkembangan signifikan yang mendukung kenaikan harga emas dan perak.
Sentimen pasar juga dipengaruhi perkembangan geopolitik. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan Iran dan Amerika Serikat telah mencapai kesepahaman mengenai prinsip-prinsip utama dalam pembicaraan yang bertujuan menyelesaikan sengketa nuklir yang berlangsung lama, meski belum mengindikasikan kesepakatan final dalam waktu dekat.
Di saat bersamaan, delegasi Ukraina dan Rusia juga menggelar perundingan damai selama dua hari di Jenewa yang dimediasi Amerika Serikat. Menurut Wyckoff, perkembangan ini menjadi sentimen negatif bagi emas karena berpotensi meredakan kecemasan pasar.
Dia menambahkan, apabila Amerika Serikat dapat menghindari konflik dengan Iran, tingkat kekhawatiran pasar akan menurun, yang biasanya berdampak negatif terhadap aset lindung nilai seperti emas dan perak.
Pelaku pasar kini menantikan risalah rapat Federal Reserve periode Januari yang akan dirilis Rabu, serta laporan Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat untuk Desember yang dijadwalkan Jumat, guna mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga bank sentral. Pasar saat ini memperkirakan pemangkasan suku bunga pertama tahun 2026 akan terjadi pada Juni.
Logam kuning yang tidak memberikan imbal hasil cenderung berkinerja baik dalam lingkungan suku bunga rendah.
Pergerakan harga juga dipengaruhi rendahnya aktivitas perdagangan karena sejumlah pasar Asia tutup dalam rangka libur Tahun Baru Imlek, termasuk China daratan, Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, dan Singapura.
Di pasar logam lainnya, harga perak spot jatuh 4,1% ke posisi USD73,47 per ons, setelah sempat menyentuh level terendah USD71,92 di awal sesi. Harga platinum turun 1,3% menjadi USD2.017,06 per ons, sementara paladium melemah 3,1% ke USD1.670,25 per ons. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now