Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengembangkan kawasan sentra industri garam nasional (K-SIGN) di Rote Ndao dalam mewujudkan swasembada garam pada 2027. Kawasan industri garam tersebut berdiri di atas lahan 12.597,69 hektare (ha).
Direktur Sumber Daya Kelautan KKP Frista Yorhanita menyebut tidak semua pembangunan industri garam di kawasan tersebut dilakukan pemerintah. Mengingat, kemampuan anggaran yang dimiliki KKP hanya mampu menggarap dua dari total 10 zona.
"Pengembangan kawasan industri Rote itu kan tidak mungkin pemerintah semua. Kemampuan APBN kami paling ya hanya bisa di 2 zona, sisa 8 zonanya itu harus dilakukan oleh investor," ujar Frista dalam acara Hilirisasi Garam untuk Indonesia Mandiri di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (12/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: PT Kilang Pertamina Internasional & PT Garam Perkuat Hilirisasi Garam |
Libatkan Swasta
Frista menerangkan proyek percontohan industri garam ini terus dikembangkan sejak 2025 dan akan terus berlanjut tahun ini. Dalam paparannya, KKP akan menggarap zona 1 seluas 1.025 ha dan zona 2 seluas 899,54 ha. Sisanya, atau seluas 10.444,73 ha di kawasan industri garam di Rote akan ditawarkan ke investor atau swasta.
"Bagaimana dengan sisanya? Sisanya itu nanti yang akan kita tawarkan kepada investor, termasuk nanti rekan-rekannya Pak Adhi (Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia), industri pengguna ini yang selama ini hanya memakai saja misalnya gitu ya. Nanti akan juga berkontribusi minimal mereka jadi bisa memenuhi kebutuhannya sendiri," jelas Frista.
Ia membeberkan pemilihan lokasi di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai kawasan industri karena mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan lokasi lain, terutama dari sisi iklim, mengingat produksi garam sangat bergantung dengan cuaca. Selain cuaca, kualitas air di perairan Rote Ndao juga lebih bagus. Frista menargetkan kawasan tersebut ditargetkan dapat memproduksi 400 ribu ton garam per tahun.
"Nah, dari kawasan ini tuh kami menargetkan ada 200 ton per hektare. Kalau dia nanti ada 10.000 ini misalnya itu dikembangkan semuanya, artinya kan dari kawasan ini insyaallah akan ada 400.000 ton per tahun," imbuhnya.
(rea/ara)Reprinted from detik_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Leave Your Message Now