- Harga minyak naik sekitar 1% didorong ketegangan AS-Iran dan dukungan data ekonomi AS yang solid.
- Kenaikan tertahan lonjakan persediaan minyak mentah AS yang jauh di atas perkiraan pasar.
- Pasar tetap mencermati negosiasi Iran, prospek permintaan global, serta dinamika pasokan OPEC dan Rusia.
Ipotnews - Harga minyak menguat sekitar 1%, Rabu, didorong kekhawatiran pasar terhadap meningkatnya ketegangan antara Amerika dan Iran. Namun, kenaikan harga tertahan oleh laporan lonjakan persediaan minyak mentah AS yang jauh di atas perkiraan pasar.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup naik 60 sen atau 0,87% menjadi USD69,40 per barel, demikian laporan Reuters, di New York, Rabu (11/2) atau Kamis (12/2) pagi WIB.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melonjak 67 sen atau sekitar 1,05% menjadi USD64,63 per barel.
Pelaku pasar menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor utama penopang harga. Presiden Lipow Oil Associates, Andrew Lipow, menyebut pasar terus dipengaruhi dinamika hubungan AS-Iran serta negosiasi yang berlangsung tanpa kejelasan hasil.
Presiden AS Donald Trump mengatakan belum ada keputusan final dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, namun negosiasi dengan Iran akan terus dilanjutkan.
Sebelumnya, Trump juga menyatakan mempertimbangkan pengiriman kapal induk tambahan ke Timur Tengah apabila kesepakatan dengan Iran tidak tercapai, di tengah persiapan kedua negara untuk melanjutkan pembicaraan.
Pekan lalu, diplomat Amerika dan Iran menggelar pembicaraan tidak langsung di Oman di tengah peningkatan kehadiran militer AS di kawasan. Hingga kini, jadwal dan lokasi putaran negosiasi berikutnya belum diumumkan.
Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menilai retorika politik masih keras, namun belum terlihat tanda eskalasi konflik dalam waktu dekat. Dia menambahkan, pasar masih menilai peluang tercapainya kesepakatan terkait program nuklir Iran tetap terbuka.
Selain faktor geopolitik, harga minyak juga mendapat dukungan dari data ekonomi Amerika yang menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja meningkat sepanjang Januari dan tingkat pengangguran turun ke 4,3%.
"Pasar tenaga kerja yang tangguh mendukung permintaan bahan bakar transportasi, petrokimia, dan pembangkit listrik, mengurangi risiko penurunan konsumsi Amerika pada saat sentimen makro telah menjadi waspada," kata Rystad Energy, menambahkan "stabilitas pasar tenaga kerja memperkuat pandangan bahwa gambaran permintaan semakin menguat."
Meski demikian, kenaikan harga minyak tertahan setelah Badan Informasi Energi (EIA) Amerika melaporkan persediaan minyak mentah melonjak 8,5 juta barel menjadi 428,8 juta barel pada pekan lalu, jauh di atas ekspektasi analis yang memperkirakan kenaikan sekitar 793.000 barel.
"Produksi domestik kembali dengan sangat kuat dan tidak jauh dari rekor sepanjang masa," kata Robert Yawger, Direktur Mizuho.
Dari sisi fundamental pasar global, OPEC dalam laporan bulanannya mempertahankan proyeksi permintaan dan pasokan minyak secara umum, namun memperkirakan kebutuhan minyak dari kelompok tersebut akan turun sekitar 400.000 barel per hari pada kuartal kedua dibanding kuartal pertama.
Sementara itu, produksi minyak Rusia dilaporkan turun sekitar 0,6% pada Januari dibandingkan bulan sebelumnya.
Di sisi lain, Mesir mendorong perusahaan minyak internasional untuk menggandakan produksi hingga 2030 dengan merevisi kontrak yang ada guna menarik investasi baru di sektor energi. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now