JAKARTA, investor.id -Harga emas dan perak dunia kembali anjlok tajam pada perdagangan Senin (2/2/2026), setelah bursa derivatif Chicago Mercantile Exchange (CME) menaikkan persyaratan margin kontrak berjangka logam mulia.
Kebijakan tersebut memperparah tekanan jual yang sudah terjadi sejak pekan lalu, menyusul sentimen pasar akibat penunjukan Kevin Warsh sebagai calon ketua The Fed berikutnya.
Harga emas spot anjlok 4,22% ke level US$ 4.660,1 per ons troi. Pada 30 Januari lalu, harga emas ambrol lebih dari 9,8% dalam satu hari, menjadi penurunan harian terdalam sejak 1983.
Sejak menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di US$ 5.594,82 per ons troi pada 29 Januari, harga emas telah merosot sekitar US$ 900. Penurunan ini menghapus sebagian besar kenaikan harga yang dibukukan sepanjang tahun berjalan.
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April tercatat jatuh 1,29% ke level US$ 4.683,9 per ons troi.
Tekanan serupa juga dialami perak. Harga perak spot merosot 6,48% ke US$ 79,21 per ons, setelah sempat anjlok hingga 15% pada perdagangan intraday. Secara keseluruhan, harga perak telah terkoreksi sekitar 33% dari rekor tertingginya di US$ 121,64 per ons yang dicapai pekan lalu.
CME sebelumnya mengumumkan kenaikan persyaratan margin untuk kontrak berjangka logam mulia pada 30 Januari, yang mulai berlaku setelah penutupan perdagangan Senin. Kebijakan ini dinilai mempersempit ruang spekulasi di pasar.
"Kenaikan margin membuat posisi spekulatif menjadi kurang menarik. Di sisi lain, banyak pelaku ritel yang tidak memiliki likuiditas tambahan terpaksa melepas posisi mereka," ujar Analis MarketPulse by OANDA, Zain Vawda.
Efek Berantai
Vawda menambahkan, kondisi tersebut menciptakan efek berantai di pasar. "Ketika harga turun, semakin banyak trader menghadapi margin call, yang kemudian memicu aksi jual lanjutan dan menekan harga lebih dalam," jelas Vawda.
Di sisi makroekonomi, indeks dolar AS tercatat menguat sejak pekan lalu setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjuk mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh sebagai kandidat ketua bank sentral AS.
Penguatan dolar membuat harga emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar negeri.
Meski pasar memperkirakan Warsh cenderung mendukung penurunan suku bunga, investor juga menilai ia akan memperketat neraca The Fed, langkah yang secara historis mendukung penguatan dolar AS.
Namun demikian, Barclays dalam catatan terbarunya menilai sejumlah faktor, seperti potensi pemangkasan suku bunga, ekspansi fiskal, pelonggaran moneter, pelemahan nilai mata uang fiat, serta tren dedolarisasi global, masih berpeluang menjaga permintaan investasi terhadap emas tetap solid.
Sumber : investor.id
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now