- Harga minyak jatuh tajam, Brent -4,4% dan WTI -4,7% dipicu sinyal membaiknya hubungan AS-Iran.
- Tekanan tambahan datang dari penguatan dolar AS dan prakiraan cuaca AS yang lebih hangat.
- Fokus pasar bergeser ke potensi surplus pasokan, meski OPEC + tetap menahan produksi.
Ipotnews - Harga minyak jatuh lebih dari USD3 per barel, Senin, setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran "serius melakukan pembicaraan" dengan Washington, memicu ekspektasi meredanya ketegangan geopolitik dengan negara anggota OPEC itu. Tekanan tambahan datang dari penguatan dolar AS serta prakiraan cuaca yang lebih hangat.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup merosot USD3,02 atau 4,4% menjadi USD66,30 per barel, demikian laporan Reuters, di New York, Senin (2/2) atau Selasa (3/2) pagi WIB.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), kehilangan USD3,07 atau 4,7% ke posisi USD62,14 per barel.
Pejabat dari Iran dan Amerika Serikat mengatakan kepada Reuters bahwa kedua negara akan melanjutkan kembali pembicaraan nuklir pada Jumat.
Sabtu, Trump menyebut Iran "serius berbicara" dengan Amerika, hanya beberapa jam setelah pejabat keamanan tertinggi Iran, Ali Larijani, menyatakan pengaturan untuk negosiasi tengah disiapkan.
Sebelumnya, Trump beberapa kali mengancam Iran dengan intervensi jika Teheran tidak menyepakati kesepakatan nuklir atau terus melakukan tindakan keras terhadap para demonstran. Ancaman tersebut sempat menopang harga minyak sepanjang Januari, menurut analis Phillip Nova, Priyanka Sachdeva.
Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS turut menekan harga minyak. Dolar menguat setelah pelaku pasar menyambut pencalonan Kevin Warsh sebagai Chairman Federal Reserve berikutnya. Penguatan dolar membuat harga minyak yang diperdagangkan dalam greenback menjadi lebih mahal bagi investor pemegang mata uang lain.
Tekanan juga datang dari prakiraan cuaca yang lebih hangat di Amerika Serikat. Kondisi ini menekan harga bahan bakar, terutama minyak solar. Ritterbusch and Associates mencatat kontrak berjangka solar AS--yang banyak digunakan untuk pemanas dan pembangkit listrik--anjlok lebih dari 6%.
Sebelumnya, ketegangan di Timur Tengah dan fenomena pusaran udara dingin (polar vortex) di Amerika mendorong harga WTI melejit 14% dan Brent melesat 16% sepanjang Januari, menurut catatan analis PVM. Namun, dengan meredanya faktor tersebut, perhatian pasar kini kembali tertuju pada potensi peningkatan persediaan minyak global sepanjang tahun ini.
Di sisi lain, OPEC + dalam pertemuan Minggu sepakat untuk mempertahankan tingkat produksi minyak mereka untuk Maret. Pada November lalu, kelompok tersebut juga membekukan rencana kenaikan output tambahan untuk periode Januari hingga Maret 2026, menyusul lemahnya konsumsi musiman. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now