Rupiah Rontok, Dipicu Sentimen Internal dan Risiko Arus Modal

avatar
· Views 1,432

JAKARTA, investor.id -Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup rontok pada Kamis (29/1/2026), meski indeks dolar AS justru bergerak turun. Pelemahan rupiah dipicu sentimen internal, terutama kekhawatiran investor terhadap prospek pasar keuangan domestik.
Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah hari ini turun 33 poin (0,2%) ke level Rp 16.755 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terlihat turun 0,27% ke level 96,18.
Sedangkan pada perdagangan Rabu (28/1/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 46 poin di level Rp 16.722.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pelemahan rupiah terjadi di tengah sentimen negatif dari dalam negeri, meskipun tekanan eksternal relatif terbatas. "Salah satu faktor utama adalah kekhawatiran pasar menyusul langkah analis Goldman Sachs Group Inc yang menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight ," tulis Ibrahim dalam risetnya, Kamis (29/1/2026).
Goldman Sachs memperingatkan bahwa kekhawatiran MSCI Inc terkait kelayakan investasi Indonesia berpotensi memicu arus keluar dana asing dalam skala besar. Dalam skenario ekstrem, jika Indonesia diklasifikasikan ulang dari pasar negara berkembang menjadi pasar frontier , dana pasif yang mengikuti indeks MSCI diperkirakan dapat melepas aset hingga US$ 7,8 miliar.
Selain itu, lanjut dia, arus keluar tambahan senilai sekitar US$ 5,6 miliar juga berpotensi terjadi apabila FTSE Russell melakukan peninjauan ulang terhadap metodologi dan status free-float pasar saham Indonesia.
"Kombinasi tekanan pasar dan risiko penurunan likuiditas dinilai berpotensi mendorong penyesuaian portofolio investor long-only , sekaligus memicu aliran dana spekulatif dari hedge fund,"  tambah Ibrahim. 
Pasar Saham Anjlok
Ibrahim menambahkan, tekanan terhadap aset keuangan domestik semakin terasa setelah pasar saham Indonesia anjlok 7,4% pada Rabu (28/1/2026). Penurunan tajam tersebut terjadi setelah MSCI mengumumkan penundaan perubahan indeks, sembari menunggu regulator menyelesaikan kekhawatiran terkait kepemilikan saham yang terlalu terkonsentrasi di sejumlah emiten.
"Rendahnya tingkat free float saham yang beredar di pasar menjadi sorotan utama investor global," ucap Ibrahim.
Dari sisi global, Ibrahim menyebut, sentimen pasar juga dibayangi ketegangan geopolitik, terutama setelah Presiden AS Donald Trump dikabarkan mempertimbangkan langkah militer lanjutan terhadap Iran. Selain itu, The Fedmemutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%, dengan kebijakan moneter tetap bergantung pada data ekonomi ke depan.
Ibrahim menambahkan, pada perdagangan Kamis sore, rupiah sempat melemah hingga 85 poin sebelum akhirnya ditutup turun 33 poin. Untuk perdagangan Jumat (30/1/2026), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 16.750-Rp 16.780 per dolar AS.

Sumber : investor.id

Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.
Reply 0

Leave Your Message Now

  • tradingContest