- Jagung, kedelai, dan gandum naik dipicu cuaca panas-kering di Argentina.
- Dolar AS melemah bikin komoditas Amerika lebih murah dan dorong permintaan.
- Kenaikan tertahan oleh pasokan global yang masih melimpah.
Ipotnews - Harga jagung dan kedelai berjangka Chicago menguat, Rabu, didorong kekhawatiran pasar terhadap cuaca panas dan kering di Argentina yang berpotensi merusak tanaman, serta melemahnya nilai tukar dolar AS.
Harga gandum berjangka juga tercatat mengalami kenaikan.
Kontrak kedelai Chicago Board of Trade ( CBOT ) paling aktif naik 0,7% menjadi USD1.074,50 per bushel pada pukul 12.39 WIB, demikian laporan Reuters, Rabu (28/1).
Sementara itu, kontrak jagung menguat 0,5% ke posisi USD428,50 per bushel, dan gandum meningkat 0,9% menjadi USD527,75 per bushel.
Dolar AS bertahan di dekat level terendah hampir empat tahun yang dicapai pada sesi Selasa. Sejak 20 Januari, Indeks Dolar (Indeks DXY) anjlok sekitar 3% terhadap sekeranjang mata uang utama, seiring kekhawatiran investor terhadap kebijakan domestik Presiden AS Donald Trump serta sikapnya terkait Greenland.
Pelemahan dolar membuat komoditas asal Amerika menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga berpotensi meningkatkan permintaan global.
"Dolar AS yang lebih lemah jelas memberikan dampak positif dari sisi ekspor terhadap harga komoditas Amerika," kata analis Bendigo Bank Agribusiness, Sean Hickey.
Di Amerika Selatan, kondisi cuaca panas ekstrem dan kering melanda Argentina, mengancam produksi tanaman di negara yang merupakan eksportir terbesar dunia untuk bungkil dan minyak kedelai, serta pemasok jagung terbesar ketiga dunia.
Wilayah pertanian utama Argentina saat ini sangat membutuhkan hujan setelah suhu udara dalam beberapa hari terakhir mendekati 40 derajat Celsius. Namun, prakiraan cuaca menunjukkan belum ada hujan signifikan hingga Februari.
Buenos Aires Grains Exchange melaporkan bahwa dampak cuaca kering ini terjadi saat musim tanam hampir selesai, dengan 93,1% area jagung dan 96,2% lahan kedelai telah ditanami.
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati kondisi cuaca dingin di wilayah penghasil gandum Amerika Serikat dan Rusia.
"Ada sedikit kekhawatiran mengenai sejauh mana lapisan salju dapat melindungi tanaman dari serangan udara dingin Arktik," ujar Hickey.
Meski demikian, pasokan global yang melimpah untuk kedelai, jagung, dan gandum masih menahan kenaikan harga, yang saat ini tetap jauh di bawah puncaknya pada 2022.
Sementara itu, konsultan pertanian Sovecon, Selasa, menaikkan proyeksi ekspor gandum Rusia musim 2025/2026 sebesar 1,1 juta metrik ton menjadi 45,7 juta ton. Rusia saat ini merupakan eksportir gandum terbesar di dunia. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now