Perekonomian global masih diwarnai ketidakpastian. Namun, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan tetap berada di jalurnya yang didukung kebijakan pemerintah yang kondusif, kondisi keuangan korporasi yang solid, serta perkembangan berkelanjutan dalam kecerdasan buatan (AI).
"Latar belakang ini relatif kondusif bagi aset berisiko. Meski ketidakpastian fundamental dan politik tetap tinggi, kami yakin puncaknya telah terlewati. Kendati demikian, investor tetap perlu mencermati potensi volatilitas pasar, terutama menjelang pemilu paruh waktu AS maupun transisi Ketua The Fed," terang Tim CIO Allianz Global Investors (AllianzGI) dalam Laporan House View Q1 2026, dikutip Rabu (28/1/2026).
Disebutkan, AI tetap menjadi tema investasi utama tapi membutuhkan pendekatan yang disiplin dan terdiversifikasi. AllianzGI menilai, sektor ini belum berada dalam fase gelembung. Peluang mulai bermunculan di ekosistem AI yang lebih luas, termasuk sektor energi dan infrastruktur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di tengah meluasnya peluang AI, investor tetap perlu mencermati risiko konsentrasi serta memantau pergerakan credit default swap (CDS) pada perusahaan-perusahaan AI besar, karena indikator tersebut dapat menjadi sinyal awal munculnya risiko kredit," lanjut Tim CIO AllianzGI.
Dari sisi kelas aset ekuitas, AllianzGI menilai peluang masih terbuka di berbagai pasar global. Di Amerika Serikat (AS), meskipun valuasi saham berkapitalisasi besar masih relatif tinggi, prospek tetap didukung oleh kembalinya belanja modal di sektor manufaktur.
Sektor-sektor strategis di Eropa yang diuntungkan oleh dorongan menuju kemandirian regional memberikan stimulus yang signifikan. Tiongkok berpotensi menjadi lahan investasi yang subur pada 2026 seiring gelombang penyebaran AI.
Di pasar pendapatan tetap, AllianzGI melihat peluang pada obligasi pemerintah AS berdurasi pendek seiring ekspektasi kurva imbal hasil yang menanjak. Sementara di pasar yang mendekati akhir siklus pelonggaran moneter, seperti Kanada, strategi yield curve flattener menjadi lebih menarik.
Baca juga: Awal 2026 Masih Tak Tenang, Purbaya Ungkap Awan Gelap Ekonomi Dunia |
"Untuk eksposur jangka panjang, obligasi pemerintah negara berkembang, khususnya dari Brasil, Peru, dan Afrika Selatan menawarkan tingkat suku bunga riil yang menarik, dengan bank sentral yang masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga," tulis Tim CIO AllianzGI.
Dari segi multi-aset, AllianzGI optimistis terhadap aset berisiko meskipun volatilitas pasar dan ketidakpastian terkait data ekonomi Amerika Serikat serta arah kebijakan suku bunga The Fed masih berlanjut. Ekuitas tetap menjadi kelas aset utama, dengan penyesuaian eksposur dari AS ke Asia.
"Kami mempertahankan keyakinan jangka panjang terhadap emas, yang ditopang oleh permintaan bank sentral dan arus masuk ke produk exchange-traded fund (ETF). Kami juga meningkatkan pandangan terhadap tembaga, seiring pasokan yang stagnan dan meningkatnya permintaan untuk mendukung infrastruktur transisi hijau serta ekspansi AI," jelas Tim CIO Allianz GI.
Secara keseluruhan, AllianzGI mengambil sikap yang relatif lebih pro-risiko, dengan penekanan kuat pada diversifikasi lintas kelas aset dan wilayah. Mengombinasikan eksposur pada pendorong pertumbuhan struktural seperti AI dengan alokasi di pasar negara berkembang, logam mulia, serta mata uang yang masih undervalued dapat membantu menyeimbangkan risiko dan imbal hasil.
"Dalam tahun yang kami perkirakan tetap tangguh namun kompleks, manajemen aktif akan menjadi faktor penentu keberhasilan investasi," tulis Tim CIO AllianzGI.
(acd/acd)Reprinted from detik_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Leave Your Message Now