Rupiah Berpotensi Menguat Seiring Meningkatnya Risiko Shutdown Pemerintahan AS

avatar
· Views 916
  • Rupiah menguat ke Rp16.741 per dolar AS, didorong pelemahan dolar AS seiring meningkatnya risiko government shutdown di Amerika Serikat.
  • Indeks dolar terus melemah ke level terendah hampir 4 tahun akibat sentimen "sell America", konflik anggaran, perang tarif, hingga ketidakpastian politik AS.
  • Potensi penguatan rupiah berlanjut, dengan proyeksi pergerakan hari ini di kisaran Rp16.650-Rp16.800 per dolar AS, seiring probabilitas shutdown AS yang mendekati 77%.

Ipotnews - Nilai tukar rupiah terhadap dolar masih berpeluang menguat, karena ancaman penutupan kembali Pemerintahan Amerika Serikat kini semakin besar.
Mengutip data Bloomberg pada Rabu (28/1) pukul 09.15 WIB, kurs rupiah sedang diperdagangkan di level Rp16.741 per dolar AS, menguat 27 poin atau 0,16% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya pada Selasa sore (27/1) di Rp16.768 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan indeks dolar AS sendiri masih terus turun sehingga bisa mendukung penguatan rupiah. Rupiah diperkirakan akan menguat terhadap dolar AS yang kembali melemah cukup tajam," kata Lukman kepada Ipotnews melalui pesan WhatsApp pagi ini.
Indeks dolar AS mencapai level terendah dalam hampir 4 tahun di tengah "sell America" trade yang berkelanjutan. "Range kurs rupiah hari ini diperkirakan Rp16.650 - Rp16.800 per dolar AS," ujar Lukman.
Pelemahan indeks dolar dipengaruhi banyak faktor, termasuk dari ancaman shutdwon pemerintahan AS. "Ditambah faktor polemik soal Greenland, perang tarif dengan beberapa negara, ancaman shutdown, hingga komentar terakhir Trump tentang dolar yg dia anggap masih cukup kuat, serta kekisruhan politik domestik AS," ungkap Lukman.
AS memang kembali menghadapi potensi government shutdown setelah masa berlaku pendanaan sementara pemerintah federal mendekati batas akhir Januari ini.
Sementara kesepakatan anggaran permanen belum juga tercapai. Ancaman ini muncul hanya beberapa bulan setelah AS keluar dari shutdown sebelumnya, menandakan bahwa persoalan anggaran masih belum benar-benar terselesaikan.
Pasar kini menilai risiko shutdown cukup tinggi. Sejumlah indikator menunjukkan probabilitas terjadinya shutdown hingga akhir Januari mendekati 77%, mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan fiskal AS.
AS sebelumnya telah mengalami shutdown yang dimulai pada 1 Oktober 2025 dan berlangsung selama 43 hari. Penutupan pemerintahan tersebut terjadi karena Kongres gagal mencapai kesepakatan anggaran saat memasuki tahun fiskal baru.(Adhitya/AI)

Sumber : Admin

Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.
Reply 0

Leave Your Message Now

  • tradingContest