- Dolar AS melemah tajam, Indeks DXY turun 0,9% ke 96,21, mendekati level terendah hampir empat tahun.
- Tekanan dipicu risiko kebijakan AS, termasuk isu intervensi mata uang AS-Jepang, ancaman tarif Trump, dan potensi government shutdown.
- Mata uang utama menguat, yen melonjak hingga 3%, euro mendekati USD1,20, dan poundsterling ke level tertinggi sejak 2021.
Ipotnews - Dolar AS tersungkur, Selasa, mendekati level terendah dalam hampir empat tahun terhadap sekeranjang mata uang utama. Pelemahan terjadi ketika pelaku pasar mencermati kemungkinan intervensi mata uang terkoordinasi antara otoritas Amerika Serikat dan Jepang, serta menantikan keputusan suku bunga Federal Reserve pekan ini.
Sepanjang bulan ini, dolar berada di bawah tekanan kuat akibat sejumlah faktor, termasuk kebijakan Presiden AS Donald Trump dan kekhawatiran pasar terhadap independensi the Fed, demikian laporan Reuters, di New York, Selasa (27/1) atau Rabu (28/1) pagi WIB.
Tekanan tambahan datang dari meningkatnya risiko penutupan pemerintahan (government shutdown) AS, menyusul perbedaan pandangan antara Partai Republik dan Demokrat terkait pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri, setelah insiden penembakan fatal terhadap warga negara AS oleh petugas imigrasi federal di Minnesota.
Trump juga menuduh parlemen Korea Selatan tidak menjalankan kesepakatan dagang dengan Washington dan menyatakan akan menaikkan tarif impor dari ekonomi terbesar keempat Asia tersebut, termasuk untuk mobil, kayu, dan produk farmasi, menjadi 25%.
Selain itu, Trump kembali mengancam akan mengenakan tarif hingga 100% terhadap Kanada jika negara itu melanjutkan perjanjian dagang dengan China.
Tekanan kebijakan perdagangan tersebut turut memicu penguatan won Korea Selatan, yang naik 0,5% menjadi 1.438,05 per dolar AS.
"Dengan 'tariff man' yang tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan dan pemerintahan AS menuju potensi penutupan lagi, ketidakpastian kebijakan ekonomi kembali melonjak. Hal ini memperkuat aksi 'Sell America' yang telah mendominasi pasar hampir sepanjang setahun terakhir," ujar Kepala Strategi Pasar Corpay, Karl Schamotta.
Indeks Dolar (Indeks DXY), ukuran greenback terhadap sekeranjang enam mata uang, merosot 0,9% menjadi 96,212, posisi terendah sejak Februari 2022.
Perhatian investor kini tertuju pada pertemuan kebijakan the Fed selama dua hari pekan ini. Suku bunga diperkirakan tetap dipertahankan, namun pasar mencermati dinamika politik yang menyertainya.
"Risiko terbesar bukan pada keputusan suku bunga. Kami cukup yakin the Fed akan menahan suku bunga. Namun, keputusan itu kemungkinan tidak akan disukai Presiden Trump," kata Kepala Riset Makro Monex, Nick Rees.
Trump sebelumnya berulang kali mendesak Federal Reserve untuk memangkas suku bunga. Rees menilai, Trump bisa saja segera mengumumkan kandidat pengganti Chairman Fed Jerome Powell setelah keputusan suku bunga diumumkan, terutama jika Presiden tidak mendukung langkah bank sentral tersebut.
Fokus pasar valuta asing juga tertuju pada yen, yang melambung hingga 3% dalam dua sesi terakhir di tengah spekulasi pemeriksaan nilai tukar (rate check) oleh Amerika dan Jepang, yang kerap dianggap sebagai sinyal awal intervensi resmi.
Penguatan tersebut mendorong yen menembus di bawah level 153 per dolar AS dan terakhir diperdagangkan di 152,76.
Meski belum ada konfirmasi resmi dari otoritas AS maupun Jepang, sumber yang mengetahui persoalan itu menyebutkan bahwa Federal Reserve Bank of New York telah melakukan pemeriksaan nilai tukar dolar/yen dengan pelaku pasar pada Jumat lalu. Pemerintah Jepang juga menyatakan telah berkoordinasi erat dengan Amerika terkait pasar valuta asing.
Di pasar global lainnya, euro menguat 0,96% ke USD1,19805, mendekati level USD1,20 dan berada di sekitar posisi tertinggi sejak Juni 2021. Poundsterling naik 0,7% menjadi USD1,3776, level terkuat sejak Oktober 2021. Sementara itu, dolar Australia melonjak 0,9% ke USD0,6979, tertinggi sejak Februari 2023. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now