- Yen melonjak 3%, picu tekanan luas pada dolar akibat spekulasi intervensi AS-Jepang.
- Dolar masih lemah, dibebani isu domestik AS dan kekhawatiran independensi the Fed.
- Pasar wait and see, fokus ke rapat the Fed dan potensi intervensi multilateral.
Ipotnews - Dolar AS masih kesulitan untuk rebound, Selasa, setelah mencatat penurunan tajam terhadap yen, yang turut menyeret kinerjanya secara luas. Pelaku pasar kini bersiaga terhadap potensi intervensi mata uang terkoordinasi antara Amerika Serikat dan Jepang.
Perhatian utama pasar valuta asing dalam beberapa hari terakhir tertuju pada yen, yang melesat hingga 3 persen dalam dua sesi perdagangan terakhir, demikian laporan Reuters, di Singapura, Selasa (27/1).
Penguatan ini dipicu spekulasi adanya pengecekan suku bunga (rate checks) oleh otoritas Amerika dan Jepang, yang kerap dipandang sebagai sinyal awal menuju intervensi pasar.
Sentimen tersebut membantu yen bertahan di kisaran 153-154 per dolar AS, meski pada Selasa yen sedikit melemah 0,26 persen ke posisi 154,59 per dolar. Kendati demikian, posisi ini masih jauh lebih kuat dibandingkan level terendah pada Jumat lalu di 159,23 per dolar.
"Fakta bahwa sinyal ini datang dari AS memberi risiko bagi pasar bahwa mungkin ada lebih dari satu pihak yang siap melakukan intervensi, dan ini berbeda dari pola yang kita lihat sebelumnya," ujar Parisha Saimbi, analis BNP Paribas.
Dia menambahkan, sentimen tersebut menjelaskan mengapa pelemahan tidak hanya terjadi pada pasangan dolar/yen, tetapi juga berdampak luas terhadap pergerakan dolar secara keseluruhan.
Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pejabat Jepang maupun AS terkait pengecekan suku bunga tersebut. Namun, seorang sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada Reuters bahwa Federal Reserve Bank of New York telah melakukan pengecekan nilai tukar dolar/yen dengan dealer, Jumat.
Sementara itu, pejabat tinggi Jepang menyatakan pada Senin bahwa mereka telah berkoordinasi erat dengan Amerika Serikat terkait pergerakan pasar valuta asing.
Kemungkinan adanya intervensi membuat investor enggan kembali melemahkan yen, meski masih terdapat kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Jepang. Sejumlah analis menilai ambang batas untuk melakukan intervensi terkoordinasi cukup tinggi dan belum tentu terjadi dalam waktu dekat.
Data pasar uang Bank of Japan juga menunjukkan lonjakan yen terhadap dolar pada Jumat lalu kemungkinan bukan hasil intervensi langsung dari otoritas Jepang.
"Jika ini hanya sebatas pengecekan suku bunga dan bukan intervensi nyata, ada risiko dolar/yen kembali bergerak naik," kata Saimbi. "Namun alasan utama mengapa belum terjadi pembalikan cepat adalah kekhawatiran bahwa pihak yang terlibat bisa bersifat multilateral, bukan hanya Jepang."
Dolar Tertekan
Lonjakan yen turut memberi tekanan pada dolar AS, yang juga dibebani oleh sejumlah faktor domestik, termasuk ancaman penutupan pemerintah Amerika serta ketidakpastian kebijakan dari Presiden Donald Trump.
Dolar berupaya bangkit pada Selasa, namun pergerakannya terbatas. Euro melemah tipis 0,04 persen jadi USD1,1876, mendekati level tertinggi empat bulan di USD1,19075 yang dicapai sehari sebelumnya. Poundsterling turun 0,02 persen ke USD1,3675, tetap berada dekat puncak empat bulan.
Sementara itu, dolar Australia melorot 0,07 persen ke USD0,6911, meski masih dekat level tertinggi 16 bulan. Dolar Selandia Baru melemah 0,15 persen menjadi USD0,5966, setelah menguat hampir 0,5 persen pada sesi sebelumnya.
Sepanjang awal 2026, dolar AS berada di bawah tekanan di tengah gejolak pasar global yang memaksa investor meninjau ulang asumsi optimistis mereka terhadap stabilitas greenback.
Indeks Dolar (Indeks DXY), ukuran greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, merosot lebih dari 1 persen sepanjang tahun berjalan dan terakhir berada di 97,11, setelah menyentuh titik terendah empat bulan di 96,808 pada Senin.
Perhatian pasar juga tertuju pada rapat kebijakan dua hari Federal Reserve yang dimulai Selasa. Pertemuan ini dibayangi penyelidikan pidana pemerintahan Trump terhadap Chairman Fed Jerome Powell, upaya untuk memberhentikan Gubernur Fed Lisa Cook, serta proses pencalonan pengganti Powell.
"Saya pikir pasar akan lebih fokus pada isu independensi the Fed dibandingkan arah suku bunga," ujar Carol Kong, analis Commonwealth Bank of Australia. Dia menilai, jika Powell memilih mundur dari Dewan Gubernur setelah masa jabatannya sebagai chairman berakhir pada Mei, hal itu dapat memperkuat persepsi adanya tekanan politik dan menjadi risiko negatif bagi dolar AS. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now