- Tembaga melonjak ke level tertinggi 1 pekan, ditopang pelemahan dolar AS dan gangguan pasokan Cile.
- Timah terkoreksi setelah reli spekulatif yang sempat mencetak rekor harga.
- Logam dasar lain menguat, seiring sentimen risiko global dan pasokan ketat.
Ipotnews - Harga tembaga melejit ke level tertinggi dalam lebih dari sepekan, Senin, didorong depresiasi dolar AS, sementara harga timah terkoreksi setelah reli tajam yang sempat membawa logam solder tersebut ke rekor puncak sepanjang masa.
Kontrak tembaga paling aktif di Shanghai Futures Exchange ( SHFE ) melonjak 2,50% menjadi 103.130 yuan (USD14.827,97) per ton metrik pada pukul 09.55 WIB, setelah melambung hingga 3,25% ke posisi 103.880 yuan per ton, level tertinggi dalam lebih dari satu pekan, demikian laporan Reuters, di Beijing, Senin (26/1).
Sementara itu, harga tembaga untuk kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) menguat 0,50% menjadi USD13.180,50 per ton, setelah sebelumnya menyentuh USD13.260 per ton, juga tertinggi dalam lebih dari sepekan.
Pelemahan dolar AS yang berlanjut setelah mencatat penurunan mingguan terdalam sejak Juni pekan lalu turut menopang harga logam industri. Kekhawatiran geopolitik yang meningkat membuat investor menjauh dari dolar, sehingga komoditas yang diperdagangkan dalam greenback menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Reli tembaga juga didukung gangguan pasokan dari Cile. Kontraktor alat berat Finning menyatakan kesepakatan ketenagakerjaan dicapai pada Sabtu untuk mengakhiri pemblokiran jalan menuju tambang Escondida milik BHP dan tambang Zaldivar yang dioperasikan Antofagasta. Aksi blokade tersebut dilakukan oleh pekerja yang melakukan mogok kerja sejak Jumat lalu.
Namun demikian, aksi mogok masih berlanjut di tambang Mantoverde milik Capstone Copper di Cile. Serikat pekerja menyatakan perusahaan menghindari perundingan untuk mengakhiri pemogokan, sehingga berpotensi terus mengganggu pasokan tembaga.
Di sisi lain, harga timah mengalami koreksi setelah mencetak rekor. Kontrak timah paling aktif di SHFE menguat 6,72% menjadi 447.800 yuan per ton, setelah sebelumnya sempat melesat 10,27% dan menyentuh rekor 462.720 yuan per ton pada sesi yang sama. Sementara itu, harga timah acuan di LME turun 1,89% menjadi USD55.745 per ton, setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi di USD57.515 per ton.
Pelaku pasar menyebut kenaikan tajam harga timah didorong aksi beli spekulatif di tengah ketatnya pasokan global. Salah satu faktor terbaru berasal dari Indonesia, setelah pemerintah meluncurkan operasi penertiban penambangan ilegal yang didukung militer.
Sepanjang 2026, timah menjadi logam dasar dengan kinerja terbaik, dengan lompatan lebih dari 36% di Shanghai dan lebih dari 37% di London.
Sementara itu, pergerakan logam dasar lainnya di SHFE menunjukkan penguatan, dengan harga aluminium naik 0,83%, seng (zinc) melonjak 1,14%, timbal (lead) bertambah 0,26%, dan nikel melambung 4,36%.
Di pasar LME, aluminium naik 0,36%, seng menguat 0,77%, timbal bertambah 0,22%, dan nikel meningkat 1,91%. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now