Rupiah Tembus Rekor Terendah: Ini Penyebab dan Dampaknya bagi Ekonomi RI...

avatar
· Views 1,791
  • Rupiah tertekan kekhawatiran disiplin fiskal dan independensi Bank Indonesia
  • Arus modal asing keluar seiring penurunan suku bunga dan selisih imbal hasil
  • Pelemahan berisiko mendorong inflasi dan membatasi ruang stimulus ekonomi

Ipotnews - Nilai tukar rupiah berada di bawah tekanan berkepanjangan selama beberapa bulan terakhir seiring meningkatnya kegelisahan investor terhadap prospek fiskal Indonesia dan arah kebijakan ekonomi pemerintah. Tekanan tersebut mendorong rupiah mencetak rekor terendah terhadap dolar AS pada Januari, meskipun Bank Indonesia (BI) telah melakukan berbagai langkah intervensi untuk meredam pelemahan.
Dengan belum terlihatnya tanda pemulihan yang kuat, perhatian pasar kini tertuju pada seberapa jauh rupiah masih bisa melemah, serta implikasinya terhadap inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan biaya hidup masyarakat.
Apa yang terjadi dengan rupiah?
Rupiah sempat melemah hingga level terendah sepanjang sejarah di Rp16.988 per dolar AS pada 20 Januari, melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada April 2025. Sebelum itu, rupiah tidak pernah berada di level selemah ini sejak krisis keuangan Asia 1997-1998. Pada 2025, rupiah tercatat sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di Asia setelah rupee India.
Meski sempat menguat tipis setelahnya, tekanan belum sepenuhnya mereda. Sejumlah analis memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah lebih lanjut sepanjang 2026.
Mengapa rupiah begitu lemah?
Pelemahan rupiah pada Januari memiliki latar belakang berbeda dengan aksi jual besar pada April lalu yang dipicu kebijakan tarif resiprokal Presiden AS Donald Trump. Tren pelemahan kali ini sudah berlangsung sejak Agustus 2025, didorong kekhawatiran investor terhadap disiplin fiskal pemerintah dan potensi berkurangnya independensi Bank Indonesia akibat dorongan kebijakan pro-stimulus.
Kebijakan pro-stimulus umumnya identik dengan peningkatan belanja negara yang dibiayai lewat utang dan penerbitan obligasi. Hal ini memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal dan rasio utang, sehingga aset Indonesia dipandang lebih berisiko dan mendorong investor melepas rupiah.
Kekhawatiran tersebut memuncak pada akhir Agustus dan awal September, menyusul pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang selama ini dikenal menjaga disiplin fiskal. Kepergiannya memicu arus keluar dana besar-besaran dari pasar saham dan obligasi Indonesia.
Tak lama berselang, Bank Indonesia menyepakati untuk menanggung sebagian biaya utang program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang berorientasi belanja besar. Wacana revisi undang-undang Bank Indonesia oleh parlemen kemudian memperkuat kekhawatiran akan intervensi politik.
Pada periode yang sama, BI secara mengejutkan memangkas suku bunga dua kali berturut-turut, menyelaraskan kebijakan moneter dengan agenda pro-pertumbuhan pemerintah. Sepanjang 2025, BI telah memangkas suku bunga acuan total 125 basis poin.
Penurunan suku bunga menekan imbal hasil obligasi domestik dan mempersempit selisih dengan obligasi AS, sehingga mengurangi daya tarik aset Indonesia bagi investor asing. Akibatnya, arus modal keluar meningkat dan menekan rupiah.
Isu independensi bank sentral kembali mencuat pada 19 Januari ketika Presiden Prabowo mencalonkan keponakannya, yang saat ini menjabat wakil menteri keuangan, sebagai deputi gubernur BI. Pada hari yang sama, rupiah melemah 0,3 persen.
Tekanan juga datang dari sisi anggaran. Defisit fiskal tahun lalu mencapai 2,92 persen dari produk domestik bruto (PDB), mendekati batas maksimum 3 persen. Sejumlah analis memperingatkan defisit berpotensi menembus batas tersebut tahun ini.
Apa untung-rugi rupiah lemah?
Pelemahan rupiah kerap dianggap dapat meningkatkan daya saing ekspor. Namun dalam praktiknya, volume ekspor Indonesia lebih banyak ditentukan oleh permintaan global dan harga komoditas internasional, sehingga manfaatnya relatif terbatas.
Sebaliknya, dampak negatif rupiah lemah terasa lebih cepat dan luas karena ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada impor. Bahkan sektor manufaktur berorientasi ekspor pun masih mengandalkan bahan baku impor, sehingga keuntungan dari pelemahan mata uang sering kali tergerus.
Kenaikan biaya impor umumnya diteruskan ke konsumen, memicu inflasi--terutama pada harga pangan dan energi. Inflasi yang lebih tinggi akan menggerus daya beli rumah tangga dan menekan konsumsi, yang merupakan penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, otoritas cenderung melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah, meski upaya tersebut sering terhambat penguatan dolar AS, arus keluar modal, dan ketidakpastian kebijakan.
Apakah pemerintah dan BI khawatir?
Sejak akhir 2024, Bank Indonesia telah meningkatkan upaya stabilisasi rupiah, antara lain dengan menjual dolar AS dari cadangan devisa, membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder, serta menggunakan instrumen non-deliverable forward untuk membentuk ekspektasi pasar.
Dalam pengumuman kebijakan moneter Januari, BI menahan suku bunga acuan untuk bulan keempat berturut-turut dan menegaskan komitmen menjaga stabilitas nilai tukar. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan tidak akan ragu melakukan intervensi besar-besaran di pasar valuta asing agar pergerakan rupiah tetap sejalan dengan fundamental ekonomi.
Keyakinan BI ditopang oleh cadangan devisa yang kuat, mencapai US$156,5 miliar pada akhir 2025--tertinggi dalam sembilan bulan--yang dinilai cukup untuk mencegah gejolak ekstrem.
Dari sisi pemerintah, sinyal kekhawatiran masih minim. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah dan isu independensi BI bersifat sementara, serta optimistis minat investor akan kembali seiring penguatan ekonomi. Rencana pemerintah memperketat pengelolaan devisa hasil ekspor juga dipandang dapat menjadi bantalan tambahan bagi rupiah.
Apa yang dipertaruhkan?
Analis memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah dan menguji level psikologis Rp17.000 per dolar AS pada kuartal pertama. Barclays bahkan memproyeksikan rupiah bisa menyentuh Rp17.300 tahun ini di tengah berlanjutnya kekhawatiran fiskal.
Pelemahan rupiah berisiko mendorong inflasi melampaui target BI dan memperumit agenda pelonggaran moneter. Selain itu, nilai tukar yang lemah menurunkan daya tarik aset domestik bagi investor asing karena menggerus total imbal hasil. Tahun lalu, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia bagi investor berbasis dolar AS tertinggal dibanding Malaysia dan Thailand, yang mata uangnya termasuk paling kuat di Asia.
Rupiah yang tertekan juga membatasi ruang gerak BI. Meski ingin mendorong pertumbuhan, penurunan suku bunga lanjutan berpotensi mempercepat arus modal keluar dan memperlemah rupiah lebih dalam. Kondisi ini menjadi tantangan utama bagi pembuat kebijakan dalam menyeimbangkan stabilitas dan stimulus ekonomi.(Bloomberg)

Sumber : Admin

Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.
Reply 0

Leave Your Message Now

  • tradingContest