- Harga minyak melonjak, Brent naik 2,5% ke USD65,47 dan WTI melesat 2,8% ke USD61,15.
- Sentimen didorong risiko geopolitik, terutama potensi gangguan ekspor Iran, ketegangan Iran-AS, serta serangan drone di Laut Hitam.
- Kekhawatiran pasokan menguat, premi risiko geopolitik diperkirakan menambah USD3-4 per barel pada harga minyak global.
Ipotnews - Harga minyak melonjak lebih dari 2 persen, Selasa, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan ekspor minyak Iran yang meredam kemungkinan bertambahnya pasokan dari Venezuela.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melambung USD1,60 atau 2,5 persen menjadi USD65,47 per barel, demikian laporan Reuters, di New York, Selasa (13/1) atau Rabu (14/1) pagi WIB.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melesat USD1,65 atau sekitar 2,8 persen ke posisi USD61,15 per barel.
Analis PVM Oil Associates, John Evans, mengatakan pasar minyak mulai memasukkan faktor perlindungan harga terhadap risiko geopolitik. Dia menyoroti potensi tersingkirnya ekspor Iran, masalah pasokan di Venezuela, perkembangan perang Rusia-Ukraina, serta ketertarikan Amerika Serikat untuk mengambil alih Greenland sebagai faktor pendorong sentimen.
Iran, salah satu produsen utama dalam Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ), menghadapi gelombang demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Penindakan keras aparat terhadap pengunjuk rasa, yang menurut seorang pejabat Iran menewaskan sekitar 2.000 orang dan menyebabkan ribuan penangkapan, memicu peringatan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kemungkinan aksi militer.
Senin, Trump menegaskan setiap negara yang melakukan bisnis dengan Iran akan dikenakan tarif 25 persen atas seluruh transaksi bisnisnya dengan Amerika Serikat. China saat ini merupakan pembeli terbesar minyak mentah Iran.
"Saya tidak yakin China, misalnya, akan menjauhi minyak Iran. Namun jika itu terjadi, dan jika semua negara melakukan hal yang sama, maka pasokan global akan berkurang sekitar 3,3 juta barel per hari yang saat ini disuplai Iran ke pasar," kata Bob Yawger, Direktur Mizuho Securities, New York.
Selasa, Trump juga mengunggah pernyataan di media sosialnya yang mendorong pengunjuk rasa di Iran untuk "mengambil alih institusi mereka" serta menyatakan "bantuan sedang dalam perjalanan".
Trump menyebutkan telah membatalkan pertemuan dengan pejabat Iran hingga aksi kekerasan terhadap demonstran dihentikan. Pernyataan tersebut sempat mendorong harga minyak melejit lebih dari 3 persen dan menyentuh level tertinggi dalam tiga bulan.
Sinyal potensi pengetatan pasokan juga datang dari insiden di Laut Hitam. Empat kapal tanker minyak yang dikelola perusahaan Yunani dilaporkan terkena serangan drone tak dikenal, Selasa. Delapan sumber yang mengetahui kejadian tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa kapal-kapal itu tengah menuju terminal Caspian Pipeline Consortium di lepas pantai Rusia untuk memuat minyak.
Analis Rystad Energy, Janiv Shah, menilai kekhawatiran akan kelebihan pasokan minyak global untuk sementara mereda. Namun dia mencatat tingginya kapasitas kilang di Eropa justru menekan pasar gasoil.
Data LSEG menunjukkan premi harga minyak Brent terhadap acuan Timur Tengah, Dubai, melonjak ke level tertinggi sejak Juli. Kenaikan ini didorong oleh ketegangan geopolitik di Iran dan Venezuela yang menopang harga minyak global.
"Gejolak di Iran menambah sekitar USD3-4 per barel sebagai premi risiko geopolitik dalam harga minyak, menurut pandangan kami," tulis analis Barclays dalam sebuah catatan.
Di sisi lain, pasar juga masih mencermati potensi tambahan pasokan minyak dengan rencana dimulainya kembali ekspor Venezuela. Setelah lengsernya Presiden Nicolas Maduro, Trump pekan lalu mengatakan Caracas siap menyerahkan hingga 50 juta barel minyak kepada Amerika Serikat, meski masih berada di bawah sanksi Barat.
Sejumlah perusahaan perdagangan minyak global dilaporkan muncul sebagai pihak yang lebih awal diuntungkan dalam perebutan kendali atas aliran minyak Venezuela, bahkan melampaui raksasa energi Amerika Serikat. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now