- Rupiah melemah ke level Rp16.877 per dolar AS (turun 0,13%) akibat sinyal pejabat The Fed yang tidak terburu-buru memangkas suku bunga acuan, sehingga memperkuat dolar AS.
- Peluang pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat sangat kecil; analis Mirae Asset menilai pemangkasan baru berpotensi terjadi paling cepat akhir 2026, seiring sikap hati-hati bank sentral AS.
- Pelaku pasar menanti data inflasi AS Desember 2025 yang akan dirilis malam ini, dengan ekspektasi inflasi sekitar 2,7% yoy, menjadi faktor kunci penentu arah pasar dan nilai tukar selanjutnya.
Ipotnews - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah akibat salah seorang pejabat Federal Reserve mengeluarkan sinyal tidak terburu - buru menurunkan suku bunga acuan.
Mengutip data Bloomberg pada Selasa (13/1) pukul 15.00 WIB, kurs rupiah akhirnya ditutup di level Rp16.877 per dolar AS, melemah 22 poin atau 0,13% dibandingkan akhir perdagangan Senin (12/1) di posisi Rp16.855 per dolar AS.
Senior Market Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan pelemahan kurs rupiah dipengaruhi sinyal salah seorang pejabat the Fed yang tidak akan terburu - buru memangkas suku bunga acuan.
"Peluang terjadinya pemangkasan Fed Fund Rates pada Januari ini memang sangat kecil," kata Nafan saat dihubungi Ipotnews sore ini.
Nafan mengakui kalaupun ada peluang terjadinya pemangkasan suku bunga acuan the Fed, kemungkinan baru akan terjadi pada akhir 2026.
Selain itu, pelemahan rupiah hari ini juga dipengaruhi kewaspadaan pelaku pasar menanti data inflasi AS Desember 2025 nanti malam. "Adapun dinamika perilisan inflasi AS per Desember 2025 masih menjadi perhatian pelaku pasar,"
Gubernur Federal Reserve (The Fed) New York, John Williams mengatakan suku bunga saat ini "berada pada posisi yang tepat" untuk menstabilkan pasar tenaga kerja dan mengembalikan inflasi ke target 2% bank sentral.
Menurutnya, risiko terhadap mandat ganda bank sentral AS kini dalam "keseimbangan yang lebih baik" setelah Komite Pasar Terbuka Federal ( FOMC ) menurunkan suku bunga sebesar 75 basis poin tahun lalu.
"Kebijakan moneter kini dalam posisi yang baik untuk mendukung stabilisasi pasar tenaga kerja dan kembalinya inflasi ke target jangka panjang FOMC sebesar 2%," kata Williams melalui pidatonya dalam acara Dewan Hubungan Luar Negeri di New York City, Senin kemarin.
Selanjutnya, data yang paling ditunggu investor adalah inflasi negeri Paman Sam untuk periode Desember 2025 yang akan diumumkan nanti malam sekitar pukul 20.30 WIB.
Saat ini, pasar berangkat dari perkiraan sementara bahwa inflasi AS berada di kisaran 2,7% secara tahunan di penghujung 2025, lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebelumnya di atas 3%.(Adhitya/AI)
Sumber : admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now