- Harga CPO naik didorong penguatan minyak nabati pesaing dan ekspor awal Januari yang melonjak.
- Minyak mentah dan soyoil menguat, menopang prospek CPO sebagai bahan biodiesel.
- Risiko penahan kenaikan datang dari stok CPO tinggi dan penguatan ringgit.
Ipotnews - Minyak sawit (CPO) berjangka Malaysia menguat untuk hari kedua berturut-turut, Selasa, didorong kenaikan harga minyak nabati pesaing serta data ekspor awal Januari yang menunjukkan tren positif.
Kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman Maret di Bursa Malaysia Derivatives Exchange melonjak 41 ringgit atau sekitar 1 persen menjadi 4.131 ringgit (USD1.018,99) per ton pada jeda perdagangan tengah hari, demikian laporan Reuters, di Kuala Lumpur, Selasa (13/1).
Seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur mengatakan harga CPO bergerak lebih tinggi seiring penguatan minyak biji-bijian pesaing.
Menurutnya, kontrak saat ini diperdagangkan stabil di atas level 4.100 ringgit, ditopang faktor teknikal serta data ekspor periode 1-10 Januari.
Lembaga survei kargo memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia sepanjang 1-10 Januari melasat antara 17,7 persen hingga 29,2 persen dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya.
Di sisi lain, seorang pejabat senior pemerintah Indonesia menyatakan rencana penerapan mandatori biodiesel B50--yang mencampurkan 50 persen bahan bakar berbasis sawit dengan solar--masih bergantung pada selisih harga antara minyak mentah dan CPO.
Di pasar global, kontrak minyak kedelai (soyoil) paling aktif di Dalian naik 0,43 persen, sementara kontrak minyak sawitnya melambung 1,62 persen. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga menguat 0,62 persen.
Harga CPO umumnya mengikuti pergerakan minyak pesaing karena berkompetisi memperebutkan pangsa pasar minyak nabati (vegetable oil) dunia.
Harga minyak mentah turut menguat, didorong meningkatnya kekhawatiran terkait Iran dan potensi gangguan pasokan, yang mengimbangi prospek bertambahnya pasokan minyak dari Venezuela.
Kenaikan harga minyak mentah ini membuat CPO semakin menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Namun demikian, persediaan CPO Malaysia melonjak pada Desember hingga mendekati level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir, menembus ambang psikologis 3 juta ton.
Lonjakan ini terjadi karena produksi bulanan terkuat dalam delapan tahun terakhir hanya diimbangi oleh pemulihan ekspor yang relatif terbatas.
Sementara itu, nilai tukar ringgit--mata uang perdagangan minyak sawit--menguat 0,15 persen terhadap dolar AS, sehingga membuat CPO sedikit lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Analis teknikal Reuters, Wang Tao, memperkirakan harga minyak sawit masih berpeluang naik menuju level 4.180 ringgit per ton setelah berhasil menembus level resistance kunci di 4.099 ringgit. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now