Rupiah Masih Terdepresiasi Imbas Kekhawatiran Akan Prospek Ekonomi Domestik

avatar
· Views 704
  • Rupiah melemah 0,21% ke level Rp16.855 per dolar AS pada penutupan Senin (12/1), dipicu kekhawatiran pasar terhadap dampak bencana alam pada pertumbuhan ekonomi Indonesia akhir 2025.
  • Sentimen eksternal dan domestik sebenarnya mendukung rupiah, seperti tekanan terhadap Ketua The Fed Jerome Powell dan masih tumbuhnya penjualan eceran BI, namun belum mampu mendorong penguatan.
  • Kekhawatiran terhadap prospek ekonomi nasional tetap dominan, termasuk dampak bencana di sejumlah wilayah serta stimulus pemerintah Rp200 triliun yang dinilai belum efektif, sehingga rupiah sulit masuk tren penguatan.

Ipotnews - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat, karena kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia yang terbebani banyaknya bencana alam.
Mengutip data Bloomberg pada Senin (12/1) pukul 15.00 WIB, kurs rupiah akhirnya ditutup di level Rp16.855 per dolar AS, melemah 36 poin atau sekitar 0,21% dibandingkan akhir perdagangan Jumat (9/1) di posisi Rp16.819 per dolar AS.
Pengamat pasar keuangan, Ariston Tjendra mengatakan bahwa kurs rupiah seharusnya menguat dengan adanya sentimen negatif yang menerpa Ketua Federal Reserve Jerome Powell yang akan diperiksa oleh Kejaksaan Federal Reserve.
Ditambah lagi data penjualan eceran Bank Indonesia pada November 2025 masih tetap tumbuh, seharusnya menjadi sentimen positif bagi rupiah.
"Masalahnya adalah sentimen negatif masih membayangi kurs rupiah akibat kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia," kata Ariston saat dihubungi Ipotnews melalui WhatsApp call sore ini.
Sentimen yang dimaksud adalah banyaknya bencana alam yang melanda Indonesia mulai dari Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bencana banjir juga banyak terjadi di berbagai wilayah lain.
"Pelaku pasar khawatir ini akan berdampak terhadap kinerja pertumbuhan ekonomi nasional di akhir tahun lalu," ujar Ariston.
Tak hanya itu, pelaku pasar juga melihat stimulus penempatan dana pemerintah lebih dari Rp200 triliun di bank - bank BUMN juga belum terlalu bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia secara signifikan.
"Ini membuat kurs rupiah masih sulit untuk memasuki tren penguatan," sebut Ariston.(Adhitya/AI)


Sumber : admin

Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.
Reply 0

Leave Your Message Now

  • tradingContest