- CPO Malaysia turun 1,19% ke 4.002 ringgit/ton akibat ekspor Desember anjlok 5,2-5,8%.
- Tekanan diperkuat pelemahan minyak kedelai dan sikap pasar yang menunggu data produksi.
- Harga berisiko lanjut turun; Indonesia juga menurunkan harga referensi CPO Januari.
Ipotnews - Minyak sawit mentah (CPO) berjangka Malaysia melemah, Jumat, dalam sesi perdagangan pertama 2026, seiring pelaku pasar mencerna data ekspor yang lesu dan menantikan angka produksi Desember sebagai penentu arah harga selanjutnya.
Kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman Maret di Bursa Malaysia Derivatives Exchange merosot 1,19 persen menjadi 4.002 ringgit (USD986,93) per ton pada jeda perdagangan siang hari, demikian laporan Reuters, di Jakarta, Jumat (2/1).
Pelemahan ini terjadi setelah laporan dari lembaga survei kargo menunjukkan penurunan kinerja ekspor sepanjang Desember.
Berdasarkan laporan Intertek Testing Services dan perusahaan inspeksi AmSpec Agri Malaysia yang dirilis Rabu lalu, ekspor produk CPO Malaysia pada Desember anjlok antara 5,2 persen hingga 5,8 persen secara bulanan. Angka ini berlawanan dengan ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan adanya peningkatan, mengingat rendahnya basis ekspor pada November.
Anilkumar Bagani, Kepala Riset Komoditas Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, menyatakan penurunan ekspor lebih dari 5 persen tersebut mengejutkan pasar. Menurutnya, pelaku pasar sebelumnya mengantisipasi pemulihan ekspor yang lebih solid pada akhir tahun.
Selain faktor ekspor, harga CPO juga tertekan oleh aksi jual di pasar minyak kedelai (soyoil) Chicago yang terjadi pada Rabu. Bagani menambahkan bahwa investor kini cenderung bersikap menunggu sambil mencermati estimasi produksi minyak sawit Malaysia untuk periode Desember.
Sepanjang 2025, harga CPO tercatat melorot hampir 9 persen, dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik global serta kekhawatiran terkait kebijakan tarif.
Dari kawasan regional, Indonesia juga menurunkan harga referensi minyak sawit mentahnya. Pemerintah Indonesia menetapkan harga referensi CPO untuk Januari sebesar USD915,64 per ton, turun dibandingkan Desember yang berada di level USD926,14 per ton, sebagaimana tertuang dalam keputusan Kementerian Perdagangan.
Dari sisi teknikal, harga minyak sawit berpotensi menembus level support di 4.044 ringgit per ton. Jika tekanan berlanjut, harga diperkirakan bergerak dalam kisaran 3.964 hingga 4.008 ringgit per ton dalam waktu dekat. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now