Rupiah Menguat Tipis, Namun Tetap Jadi Salah Satu Mata Uang Terlemah Asia di 2025

avatar
· Views 371
  • Rupiah naik ke kisaran Rp16.760 per dolar AS, mengakhiri tren pelemahan tiga hari
  • Sentimen didukung kebijakan BI yang stabil dan ekspektasi inflasi melandai
  • Sepanjang 2025, rupiah masih tertinggal dengan penurunan sekitar 4,3%

Ipotnews - Nilai tukar rupiah menguat tipis menuju level Rp16.760 per dolar AS pada perdagangan Selasa (30/12), mengakhiri pelemahan selama tiga hari beruntun. Penguatan ini terjadi seiring indeks dolar AS yang bergerak di dekat level terendah dua bulan menjelang rilis risalah rapat kebijakan Federal Reserve (The Fed) bulan Desember.
Pergerakan rupiah turut dipengaruhi oleh kondisi perdagangan akhir tahun yang relatif sepi, sehingga memperbesar fluktuasi harian. Sentimen pasar juga mendapat dukungan dari sikap Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan kebijakan moneternya secara konsisten.
Pada pertengahan Desember, BI kembali menahan suku bunga acuan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, setelah memangkas total suku bunga sebesar 150 basis poin sepanjang setahun terakhir. Langkah ini mencerminkan pendekatan hati-hati bank sentral dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada data inflasi Desember yang akan dirilis akhir pekan ini. Inflasi diperkirakan melandai dari level tertinggi dalam 18 bulan terakhir dan tetap berada dalam target BI di kisaran 1,5%-3,5%, sehingga menekan risiko perubahan kebijakan dalam waktu dekat.
Selain itu, Indonesia diproyeksikan kembali mencatat surplus neraca perdagangan untuk bulan ke-67 berturut-turut pada November. Kinerja ekspor yang solid ini dinilai dapat menjadi bantalan bagi pergerakan rupiah.
Meski demikian, penguatan hari ini tentu saja belum cukup mengubah gambaran besar pelemahan sepanjang 2025, di mana rupiah masih tercatat sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terlemah di Asia, melemah sekitar 4,3%, di tengah sentimen investor yang masih terbebani oleh sikap kebijakan BI yang cenderung dovish.(Trading Economics)


Sumber : admin

Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.
Reply 0

Leave Your Message Now

  • tradingContest