- Dolar AS stabil jelang rilis risalah the Fed, pasar berhati-hati di tengah likuiditas tipis akhir tahun.
- Greenback melemah sepanjang tahun, mendorong euro, pound, dan yuan menguat; Indeks DXY turun 9,6% YtD.
- Prospek dolar masih tertekan seiring ekspektasi pemangkasan suku bunga dan perbedaan pandangan kebijakan the Fed.
Ipotnews - Dolar AS relatif stabil, Selasa, menjelang rilis risalah pertemuan Federal Reserve periode Desember, yang diperkirakan mengungkap perbedaan pandangan di internal bank sentral terkait arah kebijakan moneter tahun depan, kondisi yang membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati.
Pasar mata uang global relatif tenang akibat likuiditas yang menipis selama periode libur akhir tahun. Pergerakan ini terjadi setelah dolar AS mencatat kinerja yang kurang memuaskan sepanjang tahun, yang turut mendorong euro dan poundsterling ke level terkuatnya sejak 2017, demikian laporan Reuters , di Singapura, Selasa (30/12).
Euro terakhir diperdagangkan USD1,1772, dan berada di jalur penguatan tahunan 13,7 persen. Sementara itu, poundsterling di level USD1,3504, dan diproyeksikan mencatat kenaikan sekitar 8 persen sepanjang 2025.
Pelemahan dolar juga mendorong yuan China menembus level psikologis 7 per dolar AS, meskipun bank sentral berupaya mencegah penguatan berlebihan melalui penetapan nilai panduan yang lebih lemah serta peringatan verbal kepada pasar.
Indeks Dolar (Indeks DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, berada di posisi 98,022 pada Selasa.
Indeks tersebut bersiap mencatat depresiasi tahunan 9,6 persen, yang akan menjadi penurunan terdalam dalam delapan tahun terakhir. Pelemahan tersebut dipicu ekspektasi pemangkasan suku bunga the Fed, menyempitnya selisih suku bunga dengan negara lain, serta kekhawatiran terhadap defisit fiskal dan ketidakpastian politik di Amerika Serikat.
Perhatian investor pekan ini tertuju pada risalah rapat the Fed, setelah bank sentral memangkas suku bunga awal bulan ini namun memberi sinyal bahwa kebijakan dapat ditahan dalam waktu dekat. Untuk tahun depan, pembuat kebijakan masih terbelah mengenai arah suku bunga yang tepat.
Pelaku pasar memperkirakan ada dua kali pemangkasan suku bunga tambahan pada 2026, yang mengindikasikan dolar masih memiliki ruang untuk melemah lebih lanjut.
Analis mata uang MUFG memperkirakan Indeks DXY bisa merosot sekitar 5 persen tahun depan, dengan pergerakan greenback terutama ditentukan oleh kinerja ekonomi AS dan arah kebijakan moneter.
MUFG juga memperkirakan Komite Pasar Terbuka Federal akan memangkas suku bunga sebanyak tiga kali tahun depan, masing-masing satu kali per kuartal hingga kuartal ketiga. Menurut mereka, ambang batas kebijakan pemangkasan suku bunga tahun depan tidak jauh berbeda dibandingkan 2025.
Di Asia, yen Jepang mulai menunjukkan stabilisasi dan terakhir diperdagangkan 156,07 per dolar AS, menjauh dari area yang sebelumnya memicu peringatan keras dari otoritas Tokyo dan kekhawatiran intervensi pasar.
Ringkasan pandangan perumus kebijakan Bank of Japan yang dirilis Senin menunjukkan adanya perdebatan mengenai perlunya terus menaikkan suku bunga setelah kenaikan pada Desember. Salah satu anggota bahkan mendorong kenaikan suku bunga setiap beberapa bulan, mencerminkan fokus bank sentral pada tekanan inflasi.
Meski Bank of Japan menaikkan suku bunga dua kali pada Januari dan Desember, yen secara umum bergerak mendatar terhadap dolar sepanjang 2025.
Investor menilai laju pengetatan moneter yang lambat dan berhati-hati mengecewakan pasar, sehingga posisi beli yen yang sempat besar pada April berbalik arah menjelang akhir tahun. Data mingguan terbaru dari CFTC memperlihatkan spekulan kini memegang posisi jual kecil terhadap yen.
Kepala Analis Societe Generale, Kit Juckes, menilai pergerakan pasangan dolar-yen kini lebih dipengaruhi oleh ekspektasi pertumbuhan ekonomi dibandingkan kebijakan moneter. Menurutnya, penguatan yen sangat bergantung pada peningkatan pertumbuhan produk domestik bruto Jepang.
Pemerintah Jepang pekan lalu memproyeksikan ekonomi akan tumbuh 1,1 persen pada tahun fiskal berjalan yang berakhir Maret, naik dari estimasi 0,7 persen pada Agustus. Revisi ini didorong oleh dampak tarif AS yang lebih kecil dari perkiraan.
Pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat menjadi 1,3 persen pada tahun fiskal berikutnya, seiring kuatnya konsumsi dan belanja modal yang menutupi lemahnya permintaan luar negeri.
Di pasar mata uang lainnya, dolar Australia diperdagangkan USD0,6693, sedikit di bawah level tertinggi 14 bulan yang dicapai pada Senin. Mata uang tersebut berada di jalur kenaikan tahunan sekitar 8 persen, menjadi kinerja terbaik sejak 2020.
Sementara itu, dolar Selandia Baru tercatat di USD0,5806 dan diperkirakan membukukan kenaikan tahunan 3,7 persen, sekaligus mengakhiri tren penurunan yang berlangsung selama empat tahun berturut-turut. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now