Harga Minyak Meledak 2% Lebih, Damai Ukraina Buyar dan Yaman Memanas

avatar
· Views 661

NEW YORK , investor.id -Harga minyak dunia ditutup meledaklebih dari 2% pada perdagangan Senin (29/12/2025). Penguatan itu didorong memudarnya harapan perdamaian antara Rusia dan Ukraina serta meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya Yaman.
Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent menguat US$ 1,30 (2,1%) dan ditutup di level US$ 61,94 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) West Texas Intermediate (WTI) naik US$ 1,34 (2,4%) ke posisi US$ 58,08 per barel.
Penguatan harga minyak terjadi setelah Rusia menuding Ukraina melancarkan serangan drone ke kediaman Presiden Vladimir Putin di wilayah Rusia bagian utara. Menyusul insiden tersebut, Moskow menyatakan akan meninjau kembali posisinya dalam perundingan damai.
Namun, Ukraina membantah tudingan tersebut. Menteri Luar Negeri Ukraina menyebut pernyataan Rusia sebagai upaya mencari 'pembenaran palsu' untuk melanjutkan serangan terhadap negara tetangganya.
"Selama Rusia tidak secara mengejutkan menarik tuntutan sebelumnya terkait wilayah dan jaminan keamanan, harga minyak berpotensi bergerak lebih tinggi sepanjang pekan ini hingga pekan depan," tulis firma penasihat perdagangan minyak Ritterbusch and Associates dalam catatannya.
Sebelum tudingan serangan drone itu muncul, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyatakan telah terjadi kemajuan signifikan dalam pembicaraan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kedua pihak sepakat tim AS dan Ukraina akan bertemu pekan depan untuk merampungkan sejumlah isu yang bertujuan mengakhiri perang Rusia-Ukraina.
Selain konflik di Eropa Timur, fokus pasar minyak juga tertuju pada Timur Tengah. Konsultan energi Gelber & Associates menilai meningkatnya ketidakstabilan di kawasan, termasuk serangan udara Arab Saudi di Yaman, terus menjaga risiko gangguan pasokan minyak global.
Serangan di Yaman
Koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman sebelumnya memperingatkan akan menindak setiap langkah militer kelompok separatis selatan di Provinsi Hadramout yang dinilai dapat merusak upaya deeskalasi konflik.
Pada Kamis lalu, eskalasi bentrokan dilaporkan menewaskan dua anggota kelompok Southern Transitional Council (STC) Hadhrami Elite Forces. Serangan udara Arab Saudi dilaporkan menyusul pada Jumat dini hari.
Di sisi fundamental, pasar minyak juga mendapat dukungan dari kuatnya impor minyak mentah China melalui jalur laut.
Analis UBS Giovanni Staunovo menilai, kondisi tersebut membantu memperketat pasar minyak global. Menurutnya, level US$ 60 per barel menjadi batas bawah yang relatif kuat bagi harga Brent. Ia juga memperkirakan harga minyak berpeluang pulih secara bertahap pada 2026, seiring potensi melambatnya pertumbuhan pasokan dari negara-negara non- OPEC + pada pertengahan tahun depan.
Pelaku pasar energi juga menantikan rilis data persediaan minyak mentah AS untuk pekan yang berakhir pada 19 Desember. Laporan tersebut semula dijadwalkan rilis Senin waktu setempat, namun mengalami penundaan tanpa kepastian waktu baru.
Berdasarkan jajak pendapat Reuters, persediaan minyak mentah AS diperkirakan turun pada periode tersebut, sementara stok distilat dan bensin diproyeksikan meningkat.

Sumber : investor.id

Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.
Reply 0

Leave Your Message Now

  • tradingContest