- Harga minyak naik di Asia dipicu ketegangan geopolitik Timur Tengah dan konflik Rusia-Ukraina.
- Brent USD61,21 dan WTI USD57,28 per barel, rebound setelah anjlok lebih 2% pekan lalu.
- Perdamaian Ukraina belum pasti, isu Donbas masih jadi hambatan utama.
Ipotnews - Harga minyak menguat pada awal perdagangan Asia, Senin, seiring pelaku pasar mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan, sementara prospek perdamaian antara Rusia dan Ukraina masih menghadapi hambatan besar.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, naik 57 sen atau 0,94 persen menjadi USD61,21 per barel pada pukul 08.12 WIB, demikian laporan Reuters, di Beijing, Senin (29/12).
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menguat 54 sen atau 0,95 persen ke level USD57,28 per barel.
Kenaikan ini terjadi setelah kedua acuan harga minyak tersebut anjlok lebih dari 2 persen pada perdagangan Jumat lalu. Penurunan tersebut dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi kelebihan pasokan global serta harapan akan tercapainya kesepakatan damai Ukraina menjelang pembicaraan akhir pekan antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dan Presiden AS Donald Trump.
Analis Haitong Futures, Yang An, mengatakan penguatan harga minyak terutama didorong oleh masih tingginya ketegangan geopolitik. Menurutnya, Rusia dan Ukraina kembali saling melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi masing-masing selama akhir pekan, sehingga memicu kekhawatiran baru di pasar.
Selain itu, situasi di Timur Tengah juga dinilai semakin tidak stabil. Serangan udara Arab Saudi di Yaman serta pernyataan Iran yang menyebut negaranya tengah menghadapi "perang skala penuh" dengan Amerika Serikat, Eropa, dan Israel turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global.
Dari sisi diplomatik, Presiden Trump, Minggu, menyatakan bahwa dirinya dan Presiden Zelenskiy semakin mendekati kesepakatan untuk mengakhiri perang di Ukraina. Trump menyebut kedua pihak "sangat dekat" dengan sebuah perjanjian, meskipun mengakui masih ada sejumlah isu krusial yang belum terselesaikan.
Kedua pemimpin tersebut menyampaikan pernyataan itu dalam konferensi pers bersama setelah pertemuan di resor Mar-a-Lago milik Trump di Florida. Trump mengatakan dalam beberapa pekan ke depan akan terlihat dengan jelas apakah negosiasi untuk mengakhiri konflik tersebut dapat mencapai kesuksesan.
Meski pembicaraan perdamaian dinilai berjalan positif, analis IG, Tony Sycamore, menilai belum ada terobosan signifikan. Dia menyebut kendala utama masih berkisar pada isu penguasaan wilayah Donbas, yang hingga kini menjadi salah satu poin paling sensitif dalam negosiasi antara Rusia dan Ukraina.
Dalam catatannya, IG memperkirakan harga minyak mentah akan bergerak dalam kisaran USD55 hingga USD60 per barel dalam waktu dekat. Pergerakan harga juga akan dipengaruhi oleh langkah penegakan hukum Amerika Serikat terhadap pengiriman minyak Venezuela, serta dampak lanjutan dari serangan militer AS terhadap target ISIS di Nigeria, negara produsen minyak yang menghasilkan sekitar 1,5 juta barel per hari. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now