- Yen menguat usai peringatan keras otoritas Jepang soal potensi intervensi dan pelemahan dolar AS.
- Pasar ragu efektivitas kenaikan suku bunga BOJ, meski suku bunga mencapai level tertinggi 30 tahun.
- Dolar melemah luas, sementara euro dan pound menguat; fokus pasar ke pidato Gubernur BOJ Ueda.
Ipotnews - Yen menguat terhadap dolar AS, Senin, didorong pemulihan teknikal setelah para pejabat Jepang memperingatkan pasar agar tidak melakukan pergerakan mata uang yang "satu arah dan tajam". Pernyataan tersebut dipandang pelaku pasar sebagai sinyal jelas kesiapan pemerintah untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Penguatan yen juga mendapat dukungan dari pelemahan dolar AS secara luas. Mata uang AS berada di bawah tekanan sejak Federal Reserve memangkas suku bunga 25 basis poin pada pertemuan kebijakan 10 Desember. Selain itu, pasar kontrak berjangka suku bunga AS kini memperhitungkan peluang dua kali pemangkasan suku bunga sepanjang tahun depan, demikian laporan Reuters, di New York, Senin (22/12) atau Selasa (23/12) pagi WIB.
Dalam beberapa sesi terakhir, yen justru melemah terhadap dolar meski Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga acuan dari 0,5% menjadi 0,75%, Jumat. Level tersebut merupakan suku bunga tertinggi dalam 30 tahun terakhir. Sepanjang Desember, yen diperkirakan tetap ditutup melemah, menandai penurunan bulanan keempat secara berturut-turut.
Direktur Trading Monex USA di Washington, Juan Perez, menilai pelemahan yen terjadi karena faktor yang melampaui kebijakan kenaikan suku bunga BOJ, yang sebelumnya telah sepenuhnya diantisipasi pasar. Menurutnya, pasar masih meragukan keberlanjutan pengetatan kebijakan jika tidak disertai perbaikan fundamental ekonomi. "Meskipun peluang intervensi valuta asing kini kembali mencuat, pengalaman sebelumnya menunjukkan langkah tersebut mahal dan dampaknya terbatas," kata Perez.
Pernyataan keras dari otoritas Jepang turut memperkuat sentimen penguatan yen. Wakil Menteri Keuangan Jepang untuk Urusan Internasional, Atsushi Mimura, mengatakan pergerakan nilai tukar belakangan ini bersifat satu arah dan tajam, serta menegaskan pemerintah akan mengambil tindakan yang tepat terhadap pergerakan yang berlebihan.
Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara juga menyuarakan kekhawatiran atas pelemahan yen yang berkelanjutan dan menekankan pentingnya stabilitas nilai tukar yang mencerminkan fundamental ekonomi.
"Pernyataan lisan dari pejabat Jepang masuk akal setelah BOJ menaikkan suku bunga," kata Marc Chandler, Chief Market Strategist Bannockburn Global Forex di New York.
Dia menjelaskan, dengan langkah tersebut, Jepang kini memiliki dasar untuk menyatakan kebijakan moneter telah diperketat dan bahwa yen menyimpang dari fundamental. Kondisi ini memicu aksi short-covering terhadap yen.
Pada perdagangan petang, dolar AS melorot sekitar 0,5% terhadap yen ke level 156,94 yen, setelah sempat menyentuh 156,71. Penurunan ini menempatkan dolar pada jalur pelemahan harian terbesar sejak akhir November.
Secara lebih luas, Indeks Dolar AS (Indeks DXY), ukuran greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, melemah 0,4% menjadi 98,3, dipimpin penurunan versus euro dan yen. Indeks tersebut berada di jalur mencatat penurunan tahunan terbesar sejak 2017.
Euro menguat 0,4% terhadap dolar ke USD1,1753, bangkit setelah empat hari berturut-turut melemah pekan lalu. Penguatan terjadi setelah Bank Sentral Eropa mempertahankan suku bunga zona euro dan secara efektif menutup peluang pelonggaran dalam waktu dekat. Keputusan tersebut diantisipasi pasar, dengan Presiden ECB Christine Lagarde berulang kali menegaskan kebijakan moneter berada di posisi yang tepat.
Poundsterling juga menguat 0,6% menjadi USD1,3458, meski pekan lalu ditutup relatif datar setelah Bank of England memangkas suku bunga. Bank sentral Inggris mengisyaratkan ruang pemangkasan suku bunga lanjutan terbatas, mengingat inflasi masih berada jauh di atas target. Sepanjang bulan ini, pound melesat sekitar 1,1%, membawa kenaikan tahunan mendekati 7%.
Di sisi lain, euro sempat menyentuh rekor tertinggi terhadap yen di level 184,92, sementara franc Swiss juga mencetak rekor baru di 198,4 yen. Namun, keduanya kemudian terkoreksi tipis, dengan euro terakhir tercatat turun 0,1% ke 184,49 yen dan franc Swiss berada di 198,32 yen, masih menguat sekitar 0,6%.
Salah satu faktor yang menekan yen dalam beberapa pekan terakhir adalah rencana belanja besar Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, yang dinilai dapat menambah tekanan pada kondisi fiskal Jepang yang sudah terbebani.
Pekan lalu, dua sumber pemerintah menyebutkan total belanja dalam rancangan anggaran Jepang untuk tahun fiskal 2026 kemungkinan akan melampaui 120 triliun yen atau sekitar USD775 miliar, mencetak rekor baru.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada pidato Gubernur BOJ Kazuo Ueda di forum bisnis Keidanren pada 25 Desember, yang berpotensi memberikan petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan moneter Jepang selanjutnya. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now