Reli Santa Claus Dimulai? Wall Street Menguat Saat Saham Teknologi Ambil Alih Pasar

avatar
· Views 5,813
  • Wall Street ditutup menguat, dipimpin reli saham teknologi dan AI, dengan Micron mencetak rekor tertinggi dan Nvidia serta Oracle ikut melonjak.
  • Saham konsumen tertekan, terutama Nike yang anjlok dua digit akibat penurunan margin dan lemahnya penjualan di China.
  • Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed berlanjut, meski pasar dihadapkan pada potensi volatilitas tinggi akibat fenomena triple witching.

Ipotnews - Saham-saham Amerika Serikat ditutup menguat pada Jumat (19/12) akhir pekan ini setelah mengawali pekan dengan pergerakan yang bergejolak, seiring rebound saham teknologi yang mampu mengimbangi kejatuhan saham konsumen seperti Nike.
Saham-saham berkapitalisasi besar melanjutkan penguatan sejak Kamis, ketika produsen chip Micron Technology menyampaikan proyeksi kinerja yang kuat, yang kembali membangkitkan optimisme terhadap saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya tertekan akibat valuasi tinggi dan kekhawatiran pendanaan.
Micron mencapai level penutupan tertinggi sepanjang sejarah pada Jumat, dengan kenaikan 7%. Nvidia naik 3,9% setelah Amerika Serikat meluncurkan peninjauan terhadap chip AI terkuat kedua milik perusahaan tersebut.
Sementara itu, saham Oracle melonjak 6,6% setelah ByteDance, pemilik TikTok asal China, menandatangani kesepakatan penjualan operasi TikTok di Amerika Serikat kepada sekelompok investor, termasuk raksasa komputasi awan tersebut.
"Sektor teknologi secara umum, khususnya perusahaan-perusahaan terkait AI, sempat berada di bawah tekanan cukup besar. Ketika Micron melaporkan kinerjanya pada Rabu dan pasar bereaksi positif, muncul anggapan bahwa investor mungkin kembali masuk ke saham-saham ini," kata Thomas Martin, manajer portofolio senior di Globalt Investments.
Desember juga secara historis merupakan periode yang kuat bagi pasar saham. Sejak 1950, fenomena yang dikenal sebagai reli Santa Claus tercermin dari kenaikan indeks S&P 500 rata-rata sebesar 1,3% selama lima hari perdagangan terakhir tahun berjalan dan dua hari perdagangan pertama di bulan Januari, menurut Stock Trader's Almanac.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 183 poin atau 0,38% ke level 48.134. Indeks S&P 500 naik 59,74 poin atau 0,88% ke 6.834. Sementara Nasdaq Composite melonjak 301,26 poin atau 1,31% ke 23.307. Secara mingguan, indeks S&P 500 naik 0,11% dan Nasdaq menguat 0,48%. Sementara itu, Dow Jones turun 0,67%.
Sebanyak tujuh sektor dalam indeks S&P 500 ditutup menguat pada Jumat, sementara sektor utilitas dan barang kebutuhan pokok konsumen masing-masing turun 1,34% dan 0,49%.
Di sektor konsumen, saham Nike anjlok 10,5% setelah perusahaan pakaian olahraga tersebut melaporkan penurunan margin laba kotor untuk kuartal kedua berturut-turut, terdampak lemahnya penjualan di China serta upaya penyesuaian portofolio produknya.
Saham Lamb Weston merosot hampir 26% setelah pemasok kentang goreng beku tersebut mengisyaratkan permintaan yang lemah hingga sisa tahun fiskal. Saham Conagra turun 2,5% setelah produsen camilan daging Slim Jim melaporkan kinerja laba yang mengecewakan.
Investor mendapatkan sedikit ketenangan dari data harga konsumen Amerika Serikat yang naik lebih rendah dari perkiraan pada November, meskipun sejumlah analis mengingatkan bahwa data tersebut bisa terdistorsi akibat penutupan pemerintahan selama 43 hari yang menghambat pengumpulan data bulan Oktober.
Para pelaku pasar terus bertaruh pada setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin oleh Federal Reserve tahun depan, dengan peluang sekitar 20% untuk pemangkasan pertama yang bisa terjadi pada Januari.
Analis memperingatkan potensi volatilitas yang lebih tinggi pada Jumat akibat fenomena "triple witching", yaitu berakhirnya secara bersamaan kontrak opsi saham, futures indeks saham, dan opsi indeks saham secara kuartalan.
"Pantulan dari kondisi jenuh jual serta berakhirnya kontrak opsi membantu membersihkan sejumlah posisi," ujar Brent Kochuba, pendiri layanan analitik SpotGamma. Namun, ia menambahkan bahwa berakhirnya kontrak tersebut dapat membuat pasar lebih rentan terhadap fluktuasi harga setelah libur Natal.
Jumlah saham yang menguat melampaui yang melemah dengan rasio 1,44 banding 1 di Bursa New York. Tercatat 269 saham mencetak level tertinggi baru dan 72 saham mencapai level terendah baru. Di Nasdaq, 2.781 saham menguat dan 1.890 melemah, dengan rasio saham naik terhadap turun sebesar 1,47 banding 1.
Indeks S&P 500 mencatatkan 16 level tertinggi baru dalam 52 minggu dan lima level terendah baru, sementara Nasdaq Composite membukukan 85 level tertinggi baru dan 158 level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa Amerika Serikat mencapai 24,60 miliar saham, dibandingkan rata-rata 17,19 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.
(reuters/AI)

Sumber : admin

Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.
Reply 0

Leave Your Message Now

  • tradingContest