Rupiah Tertekan Akibat Peringatan Bank Dunia tentang Potensi Pelebaran Defisit Fiskal RI

avatar
· Views 6,479
  • Rupiah melemah dan ditutup di level Rp16.750 per dolar AS, tertekan sentimen domestik setelah Bank Dunia memperingatkan potensi pelebaran defisit APBN Indonesia, memicu kekhawatiran terhadap disiplin fiskal dan kenaikan rasio utang.
  • Tekanan fiskal meningkat, seiring penurunan rasio pendapatan negara terhadap PDB, kenaikan rasio utang pemerintah pada 2027, serta beban bunga utang yang telah menyerap 20,5% pendapatan negara.
  • Dari eksternal, pasar global masih diliputi ketidakpastian arah kebijakan The Fed meski inflasi AS melandai, ditambah risiko geopolitik.

Ipotnews - Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan akhir pekan, Jumat (19/12), seiring meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap kesehatan fiskal Indonesia setelah Bank Dunia memperingatkan potensi pelebaran defisit APBN dalam beberapa tahun ke depan.
Mengutip data Bloomberg pada pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup di level Rp16.750 per dolar AS, melemah 27 poin atau sekitar 0,16% dibandingkan penutupan Kamis (18/12) di posisi Rp16.723 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah karena pelaku pasar meresponsnegatif peringatan Bank Dunia terkait proyeksi defisit APBN Indonesia yang terus melebar hingga mendekati 3% pada 2027. Ini menimbulkan kekhawatiran terhadap disiplin fiskal dan kenaikan rasio utang pemerintah.
"Defisit keseimbangan fiskal akan berada di level 2,8% terhadap PDB pada 2025 dan bertahan pada 2026. Angka itu diproyeksikan terus melebar menjadi 2,9% terhadap PDB pada 2027, nyaris menyentuh ambang batas defisit fiskal sebesar 3% sebagaimana diatur dalam UU Nomor 17/2003 tentang Keuangan Negara," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Tekanan fiskal tersebut diperparah oleh penurunan rasio pendapatan negara terhadap PDB yang diperkirakan turun dari 13,5% pada 2022 menjadi 11,6% pada 2025, serta kenaikan rasio utang pemerintah yang diproyeksikan menembus 41,5% terhadap PDB pada 2027. Bank Dunia juga mencatat rasio pembayaran bunga utang telah mencapai 20,5% dari pendapatan negara, yang dinilai semakin mempersempit ruang fiskal.
Dari sisi eksternal, Ibrahim menambahkan bahwa pasar global masih diliputi ketidakpastian meskipun inflasi Amerika Serikat menunjukkan tren penurunan. Inflasi utama maupun inti inti AS memang turun ke level terendah sejak awal 2021.Seiring dengan meredanya inflasi, ekspektasi bahwa The Fed dapat memangkas suku bunga seharusnya meningkat.
"Namun para pedagang menanggapi data tersebut dengan skeptis karena data pekerjaan cukup solid, seperti yang diungkapkan Departemen Tenaga Kerja dalam laporan Klaim Pengangguran Awal terbaru," tambah Ibrahim. Pelaku pasar kini menantikan rilis Core PCE, indikator inflasi favorit The Fed, serta Indeks Sentimen Konsumen Universitas Michigan sebagai penentu arah kebijakan moneter AS ke depan.
Di sisi lain, dinamika geopolitik global, termasuk perkembangan konflik Ukraina dan kebijakan sanksi AS terhadap Rusia dan Venezuela, turut menambah volatilitas pasar keuangan.
Untuk perdagangan awal pekan depan, Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah ke kisaran Rp16.750 hingga Rp16.780 per dolar AS pada perdagangan Senin pekan depan. (Adhitya/AI)

Sumber : admin

Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.
Reply 0

Leave Your Message Now

  • tradingContest