- Harga CPO Malaysia diperkirakan stabil di 3.800-4.100 ringgit/ton pada Januari, didorong permintaan musiman.
- Produksi 2026 melambat ke 19,7 juta ton, sementara ekspor diproyeksi naik ke 16,2 juta ton.
- Pasokan biji-bijian melimpah dan stok Malaysia tinggi, membatasi potensi kenaikan harga jangka panjang.
Ipotnews - Harga minyak sawit mentah (CPO) diperkirakan bergerak di kisaran 3.800-4.100 ringgit per ton (USD932-1.005) pada Januari, seiring produksi musiman yang rendah di kuartal pertama dan permintaan yang meningkat menjelang perayaan Tahun Baru Imlek serta Ramadan,
Demikian pernyataan Malaysian Palm Oil Council ( MPOC ), seperti dilaporkan Reuters, di Kuala Lumpur, Jumat (19/12).
MPOC memproyeksikan ekspor minyak sawit Malaysia akan meningkat menjadi 16,2 juta metrik ton pada 2026, sementara produksi diprediksi melambat menjadi 19,7 juta ton. Penurunan ini terjadi karena pohon kelapa sawit memasuki fase istirahat setelah kinerja produksi yang solid pada 2025.
Tahun ini, produksi CPO Malaysia diperkirakan mencapai 20 juta ton untuk pertama kalinya, setelah mencatat rekor output dalam dua bulan terakhir.
Meski begitu, MPOC menyoroti bahwa harga CPO kemungkinan akan tetap berada dalam kisaran sempit. Tekanan datang dari harga minyak mentah yang lemah serta melimpahnya pasokan biji-bijian, yang dapat membatasi pemulihan harga jangka panjang.
"Produksi kedelai global diproyeksikan stagnan di 424 juta ton pada 2026, namun pasokan yang melimpah diperkirakan tetap menekan sentimen pasar, karena ketersediaan oilseed (minyak biji-bijian) masih melimpah," kata MPOC .
MPOC juga memprediksi permintaan impor minyak sawit India akan melonjak antara Januari hingga Maret, didukung musim pernikahan yang biasanya mendongkrak konsumsi.
Di China, palm olein tercatat semakin kompetitif dibandingkan minyak kedelai (soyoil), dan penyempitan premi harga antara keduanya dapat menjadi peluang bagi pembeli untuk menambah persediaan.
Kendati stok Malaysia melesat, MPOC tidak khawatir terhadap potensi kelebihan pasokan, karena persediaan di produsen terbesar dunia, Indonesia, diperkirakan menurun menjelang akhir tahun.
Berdasarkan data Malaysian Palm Oil Board, persediaan minyak sawit Malaysia pada November mencapai 2,84 juta metrik ton, level tertinggi sejak Maret 2019.
Kenaikan stok ini berpotensi menekan kontrak berjangka acuan di Bursa Malaysia, yang saat ini diperdagangkan pada level terendah enam bulan terakhir, meski permintaan musiman dan faktor produksi yang menurun diyakini dapat menahan harga dari kejatuhan lebih tajam. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now