Tingkat Pengangguran AS Meningkat, Rupiah Diproyeksi Menguat Terbatas Saat Pasar Antisipasi RDG BI

avatar
· Views 865
  • Rupiah berpeluang menguat terbatas terhadap dolar AS seiring melambatnya pertumbuhan lapangan kerja dan naiknya tingkat pengangguran AS, dengan posisi pagi ini di kisaran Rp16.600-Rp16.700 per dolar AS.
  • Data tenaga kerja AS melemah, tercermin dari kenaikan nonfarm payrolls hanya 64.000 pada November dan tingkat pengangguran naik ke 4,6%, tertinggi sejak 2021, yang menekan dolar.
  • Pasar menanti hasil RDG BI, di mana suku bunga diperkirakan ditahan, meski sinyal pemangkasan ke depan tetap terbuka didukung inflasi rendah dan stabilitas rupiah.

Ipotnews - Nilai tukar rupiah berpeluang menguat terhadap dolar, setelah data pertumbuhan lapangan kerja melambat dan tingkat pengangguran di Amerika Serikat meningkat.
Mengutip data Bloomberg pada Rabu (17/12) hingga pukul 09.22 WIB, kurs rupiah sedang diperdagangkan di level Rp16.691 per dolar AS, menguat 12 poin atau sekitar 0,07% dibandingkan penutupan Selasa (16/12) di level Rp16.691 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS setelah data pekerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan.
"Namun penguatan akan terbatas, dengan investor mengantisipasi RDGBI sore ini yang walau diperkirakan akan mempertahankan suku bunga, tapi berpotensi mensinyalkan pemangkasan ke depannya," kata Lukman kepada Ipotnews melalui pesan WhatsApp pagi ini.
"Kurs rupiah hari ini diperkirakan berada di kisaran Rp16.600 - Rp16.700 per dolar AS," ujar Lukman.
Sebagaimana diketahui, pertumbuhan lapangan kerja di AS tetap lambat pada November dan tingkat pengangguran meningkat. Hal ini menunjukkan pendinginan pasar tenaga kerja berlanjut setelah Oktober sangat lemah.
Data Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) yang dirilis pada Selasa kemarin menunjukkan jumlah tenaga kerja di sektor non-pertanian meningkat 64.000 pada November, setelah menurun 105.000 pada Oktober. Tingkat pengangguran mencapai 4,6% bulan lalu, naik dari 4,4% pada September dan tertinggi sejak 2021.
Sebagian ekonom memproyeksi BI akan memangkas suku bunga acuan atau BI Rate pada periode Desember 2025 sebesar 25 basispoin (bps) menjadi 4,5%. BI telah menggelar rapat dewan gubernur (RDG) edisi September mulai Selasa kemarin hingga hari ini, Rabu.
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto mengatakan, perkiraan tersebut didasari pada inflasi tahunan yang masih rendah, termasuk laju nilai tukar yang saat ini masih stabil.(Adhitya/AI)

Sumber : admin

Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.
Reply 0

Leave Your Message Now

  • tradingContest