- Rupiah melemah tipis ke Rp16.688 per dolar AS karena pelaku pasar menunggu hasil FOMC dan arah kebijakan suku bunga The Fed untuk 2026, termasuk komentar Jerome Powell.
- Sentimen eksternal relatif stabil, dengan tensi geopolitik mereda pasca perkembangan rencana perdamaian Ukraina-Rusia, sementara indeks dolar menguat.
- BI memperingatkan risiko global akibat agresivitas NBFI dan tingginya utang publik dunia (USD110,9 triliun) yang dapat memicu volatilitas suku bunga dan menekan mata uang negara berkembang.
Ipotnews - Kurs rupiah ditutup melemah pada perdagangan hari ini, seiring pasar yang berhati-hati menunggu sinyal arah kebijakan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve untuk tahun 2026.
Mengutip data Bloomberg, Rabu (10/12) pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup pada level Rp16.688 per dolar AS, turun 12 poin atau 0,07% dibandingkan penutupan Selasa (9/12) di Rp16.676 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda terjadi ketika indeks dolar AS tercatat menguat pada perdagangan sore ini.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa pelaku pasar memilih menahan posisi di tengah menantikan hasil rapat Federal Open Market Committee ( FOMC ) bulan ini. Meskipun pasar memprediksi pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, dinamika internal The Fed disebut masih terpecah.
"Pasar akan mengamati dengan saksama komentar Ketua Powell bersama dengan ringkasan proyeksi ekonomi untuk mendapatkan petunjuk tentang pemikiran Fed mengenai arah ke depan. Tahun 2026 juga dapat menandai perubahan signifikan dalam personel di FOMC , termasuk Ketua Powell sendiri," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Dari sisi geopolitik, tensi global mereda setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyebut bahwa negaranya bersama mitra Eropa akan menyerahkan dokumen final rencana perdamaian kepada AS. Jika kesepakatan damai tercapai, pasar minyak global berpotensi mendapat tambahan pasokan seiring kemungkinan pelonggaran sanksi terhadap Rusia.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia mengingatkan potensi tekanan global yang berasal dari perilaku agresif lembaga keuangan non-bank ( NBFI ). BI menyebutkan bahwa sektor non-bank kini aktif memanfaatkan surat utang negara maju sebagai underlying produk derivatif berisiko tinggi tanpa pengaturan margin dan permodalan memadai.
BI menilai kondisi ini memiliki kemiripan dengan pemicu krisis 2008, di mana produk turunan berbasis hipotek subprime memicu kegagalan sistemik. Risiko tersebut semakin berat karena total utang publik dunia telah menembus USD110,9 triliun atau 94,6% PDB global, menandai level yang masuk kategori lampu merah.
"Lonjakan utang yang didominasi negara maju ini menjadi bahan bakar bagi volatilitas suku bunga global, yang pada akhirnya menambah beban berat bagi negara berkembang," ungkap Ibrahim.
Untuk perdagangan Kamis (11/12), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Ia memprediksi rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.680 - Rp16.720 per dolar AS.(Adhitya/AI)
Sumber : admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now