- Rupiah melemah tipis ke level Rp16.717 per dolar AS pada Rabu (5/11), turun 9 poin (0,06%) akibat penguatan dolar dan ketidakpastian politik-ekonomi AS imbas penutupan pemerintah federal yang sudah memasuki minggu keenam.
- Faktor eksternal utama: pasar masih menunggu arah kebijakan The Fed -- peluang pemangkasan suku bunga Desember 2025 sebesar 69,8%, sementara fokus tertuju pada kebuntuan politik di Kongres AS.
- Faktor domestik positif: ekonomi Indonesia tumbuh 5,04% yoy pada kuartal III-2025, menunjukkan fundamental yang solid di tengah ketidakpastian global; rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.710-Rp16.760 per dolar AS pada Kamis (6/11).
Ipotnews - Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar pada akhir perdagangan hari ini, seiring dengan kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian politik dan ekonomi di Amerika Serikat akibat penutupan pemerintah federal yang kini memasuki minggu keenam.
Mengutip data Bloomberg, Rabu (5/11) pukul 15.00 WIB, kurs rupiah akhirnya ditutup pada level Rp16.717 per dolar AS, melemah 9 poin atau 0,06% dibandingkan posisi akhir perdagangan Selasa (4/11) di Rp16.708 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah masih disebabkan oleh faktor eksternal, terutama dari AS. Dolar terus menguat sejak pekan lalu, setelah The Fed mengatakan pemotongan suku bunga Desember belum pasti.
Meskipun bank sentral memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Oktober, langkah tersebut sudah diperhitungkan pasar, sehingga tidak banyak menghambat penguatan dolar AS.
"Para pedagang memperkirakan peluang sebesar 69,8% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Desember, dan peluang sebesar 30,2% untuk mempertahankan suku bunga, menurut CME Fedwatch," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya, sore ini.
Ibrahim menambahkan, fokus utama pelaku pasar saat ini tertuju pada perkembangan politik AS, di mana penutupan pemerintah federal telah memasuki minggu keenam dan berpotensi menjadi yang terpanjang dalam sejarah.
"Upaya terbaru untuk memecahkan kebuntuan, dengan meloloskan undang-undang sementara yang didukung Partai Republik melalui Kongres, gagal di Senat untuk ke-14 kalinya pada hari Selasa," sebut Ibrahim.
Selain itu, pelaku pasar juga menanti rilis data penggajian swasta AS (ADP) Oktober 2025, yang diharapkan bisa memberikan sinyal arah kebijakan moneter The Fed ke depan. Konsensus pasar memperkirakan ada penambahan 25 ribu lapangan kerja, setelah sebelumnya turun 32 ribu.
Dari dalam negeri, sentimen fundamental relatif positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,04% year-on-year pada kuartal III-2025, menandakan laju ekonomi nasional masih solid di tengah ketidakpastian global.
Secara kuartalan, perekonomian tumbuh 1,43%, sementara secara kumulatif Januari-September 2025 tumbuh 5,01% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Ekonomi Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto pada triwulan III tahun 2025 atas dasar harga berlaku sebesar Rp6.060 triliun, kemudian atas dasar harga konstan Rp3.444,8 triliun sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III tahun 2025 bila dibandingkan dengan triwulan III tahun 2024 atau secara year-on-year tumbuh sebesar 5,04%," jelas Ibrahim.
Ia memperkirakan, pada perdagangan Kamis (6/11), rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di rentang Rp16.710-Rp16.760 per dolar AS.(Adhitya/AI)
Sumber : admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now