- Harga kedelai CBOT turun 0,17% setelah reli dua hari, tetapi masih diperkirakan naik hampir 1% secara mingguan, didorong harapan pembicaraan perdagangan AS-China.
- Pasokan kedelai global yang melimpah, terutama dari AS dan Amerika Selatan, membatasi kenaikan harga meski ada risiko penurunan hasil panen di Brasil akibat kekurangan curah hujan.
- Harga jagung sedikit naik, sedangkan gandum melemah, dengan pasokan global yang melimpah termasuk hasil panen gandum Argentina yang mendekati rekor tertinggi.
Ipotnews - Harga kedelai Chicago melorot, Jumat, menandai pelemahan setelah reli dua hari. Meski begitu, kedelai masih diperkirakan mencetak kenaikan hampir 1% dalam pekan ini, didorong harapan pasar atas pembicaraan perdagangan antara Amerika Serikat dan China.
Kontrak kedelai yang paling aktif di Chicago Board of Trade ( CBOT ) turun 0,17% atau USD1,75 menjadi USD1.022,00 per bushel pada pukul 13.08 WIB, tetapi secara mingguan masih naik 0,8%, demikian laporan Reuters dan Bloomberg, di Canberra, Jumat (3/10).
Harga kedelai saat ini jauh lebih rendah dibandingkan puncak-puncak harga beberapa tahun terakhir akibat pasokan besar dari AS dan Amerika Selatan, dengan harga yang cenderung stagnan di kisaran USD10 sejak Agustus tahun lalu.
Presiden AS Donald Trump pada Rabu lalu menyatakan kedelai akan menjadi topik utama dalam pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung dalam empat pekan mendatang.
Sejauh ini, importir China belum melakukan pembelian kedelai dari hasil panen musim gugur Amerika, menyebabkan kerugian miliaran dolar bagi petani AS di tengah ketegangan perang dagang kedua negara.
Setelah pernyataan Trump, dana investasi tercatat menjadi net buyer signifikan, tidak hanya pada kontrak kedelai CBOT , tetapi juga jagung dan gandum, menurut sejumlah trader.
Meski demikian, dengan pertemuan yang masih beberapa minggu lagi serta tertundanya rilis data pasokan dan permintaan akibat penutupan sementara pemerintah (government shutdown AS, sentimen negatif masih diperkirakan tetap menguasai pasar, menurut analis Rabobank, Vitor Pistoia.
Dia juga menambahkan bahwa kekurangan curah hujan di Brasil selama masa tanam kedelai bisa menurunkan potensi hasil panen, namun kenyataan pasokan global yang melimpah tetap menjadi faktor utama yang membatasi kenaikan harga.
Di sisi lain, harga kontrak jagung berjangka CBOT naik 0,06% atau 25 sen menjadi USD422,00 per bushel, dan turun tipis 0,1% secara mingguan.
Sedangkan kontrak gandum melemah 0,24% atau USD1,25 jadi USD513,50 per bushel, dan merosot 1,1% dari penutupan Jumat pekan lalu.
Baik jagung maupun gandum juga masih berada jauh di bawah level tertinggi yang dicapai pada 2022, seiring dengan kondisi pasar yang didominasi melimpahnya pasokan.
Selain itu, Bursa Gandum Buenos Aires menyampaikan bahwa hasil panen gandum Argentina musim 2025/26 mendekati rekor tertinggi berkat kelembapan tanah, menambah ketersediaan pasokan global. (Reuters/Bloomberg/AI)
Sumber : Admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now