NEW YORK , investor.id -Harga minyak dunia ditutup melemah sekitar 2% pada Kamis (2/10/2025), menandai penurunan harian keempat berturut-turut dan menyentuh level terendah dalam empat bulan terakhir. Tekanan terjadi akibat kekhawatiran pasar terhadap potensi kelebihan pasokan ( oversupply ) menjelang pertemuan OPEC + akhir pekan ini.
Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent terkoreksi US$ 1,24 (1,9%) ke level US$ 64,11 per barel, terendah sejak 2 Juni 2025. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 1,30 (2,1%) menjadi US$ 60,48 per barel, terendah sejak 30 Mei 2025.
Menurut tiga sumber yang mengetahui pembahasan, OPEC + berpotensi menyepakati peningkatan produksi hingga 500 ribu barel per hari pada November, tiga kali lipat lebih besar dibanding kenaikan pada Oktober. Langkah ini disebut sebagai upaya Arab Saudi untuk merebut kembali pangsa pasar.
"September menjadi titik balik, dengan pasar minyak kini bergerak menuju surplus besar pada kuartal IV-2025 hingga tahun depan," tulis analis JPMorgan dalam risetnya.
Analis JPMorgan menambahkan, peningkatan pasokan OPEC +, aktivitas kilang global yang melambat akibat perawatan, serta penurunan musiman permintaan akan mempercepat peningkatan stok minyak global.
HFI Research dalam blognya juga menegaskan, persediaan minyak AS akan terus naik hingga akhir tahun, ditambah peningkatan ekspor minyak mentah OPEC +, sehingga pasar minyak global akan berada dalam tren pelemahan yang persisten.
Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Rabu (1/10/2025) melaporkan bahwa persediaan minyak mentah, bensin, dan distilat AS naik pada pekan lalu seiring pelemahan aktivitas kilang dan permintaan.
Permintaan Global Melemah
Analis PVM Energy mengatakan, kekhawatiran oversupply makin diperburuk oleh lemahnya permintaan global. "Proyeksi permintaan minyak dunia berbeda-beda, namun rata-rata sudah direvisi turun 150 ribu barel per hari dari Januari hingga September 2025," tulis mereka.
Dari sisi geopolitik, negara-negara G7 menyatakan akan meningkatkan tekanan terhadap Rusia dengan menargetkan pihak-pihak yang terus memperbesar pembelian minyak Rusia.
Sementara itu, AS dikabarkan akan memberikan intelijen kepada Ukraina untuk mendukung serangan rudal jarak jauh terhadap infrastruktur energi Rusia. Langkah ini berpotensi mengganggu pasokan minyak Rusia, meski analis UBS Giovanni Staunovo menilai dampaknya masih kecil selama belum ada gangguan nyata.
Permintaan stok dari China, sebagai importir minyak mentah terbesar dunia, disebut turut menahan pelemahan harga minyak lebih dalam. Sementara itu, Colonial Pipeline, pipa bahan bakar terbesar di AS, kembali beroperasi setelah sempat mengalami gangguan teknis pada Kamis.
Sumber : investor.id
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now