- IHSG naik 0,53% ke level 8.051 dengan net buy asing Rp1,41 triliun, diprediksi melanjutkan kenaikan terbatas.
- Dukungan positif datang dari rebalancing FTSE , ekspektasi pemangkasan suku bunga BI dan The Fed, serta langkah pemerintah menjaga stabilitas fiskal.
- Analis merekomendasikan saham-saham pilihan seperti EMTK,BUMI,AMMN,CDIA,SSIA, danMBMAuntuk perdagangan jangka pendek.
Ipotnews - Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) ditutup menguat 0,53 persen ke level 8.051 pada perdagangan akhir pekan lalu. Kenaikan ini disertai aksi beli bersih asing (net buy) sebesar Rp1,41 triliun dengan saham-saham seperti
BRMS
, BBRI
, ANTM
, ASII
, dan BRPT
menjadi incaran utama investor asing.Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, menyebut pergerakan IHSG masih berpotensi melanjutkan kenaikan meski terbatas.
"Setelah adanya rebalancing FTSE pada penutupan Jumat lalu, kami melihat peluang IHSG untuk tetap bergerak positif, meskipun terbatas. Area support berada di kisaran 7.950-8.000 dengan resistance 8.080-8.150," jelas Fanny dalam riset hariannya, Senin (22/9).
BNI Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham pilihan untuk perdagangan hari ini, di antaranya
EMTK
, BUMI
, AMMN
, CDIA
, SSIA
, dan MBMA
, dengan strategi pembelian spesifik di masing-masing level teknikal.Selain itu, analis juga menyoroti katalis positif dari kebijakan moneter global dan domestik. Menurut M. Nafan Aji Gusta, CTA, Senior Market Analyst PT Mirae Asset Sekuritas, sinyal pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) maupun The Fed memberi ruang optimisme pasar.
"Secara teknikal, IHSG masih dalam tren uptrend. Indikator Stochastics K_D, RSI, serta pergerakan MA20 dan MA60 menunjukkan arah positif. Dukungan fundamental juga datang dari stimulus pemerintah serta ekspektasi penurunan suku bunga global," ujarnya.
Lebih lanjut, Nafan menilai gebrakan Menteri Keuangan dalam menjaga defisit APBN dan menyuntikkan dana Rp200 triliun ke bank Himbara turut memberi kepercayaan tambahan terhadap stabilitas ekonomi. Ia menambahkan, sentimen eksternal seperti potensi lonjakan harga emas global hingga USD5.000 per ounce akibat ketidakpastian geopolitik, juga menjadi faktor yang perlu dicermati, terutama bagi saham-saham emiten emas.(Marjudin/AI)
Sumber : admin
Reprinted from indopremier_id,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.
Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.

Leave Your Message Now