Data PPI AS Agustus Perkuat Kans Fed Pangkas Suku Bunga, Rupiah Berpeluang Menguat

avatar
· Views 52
  • Rupiah menguat tipis ke Rp16.461 per dolar AS pada Kamis pagi (11/9), naik 0,05% dari penutupan sebelumnya, dengan potensi bergerak di kisaran Rp16.400-Rp16.500.
  • Data PPI AS turun 0,1% pada Agustus 2025, pelemahan pertama dalam empat bulan, meningkatkan peluang The Fed memangkas suku bunga acuan.
  • Investor masih wait and see, mencermati data penjualan ritel Indonesia dan inflasi konsumen AS sebagai penentu arah rupiah selanjutnya.

Ipotnews - Kurs rupiah berpeluang menguat terbatas terhadap dolar, setelah data inflasi produsen (PPI) Amerika Serikat Agustus 2025 ternyata melemah.
Mengutip data Bloomberg pada Kamis pagi (11/9) pukul 09.14 WIB, kurs rupiah sedang diperdagangkan pada level Rp16.461 per dolar AS, menguat 8 poin, atau 0,05% dibandingkan penutupan Rabu sore (10/9) di level Rp16.469 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan tekanan dari dolar AS agak mereda. "Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi dengan potensi menguat terbatas terhadap dolar AS setelah data inflasi produsen AS yg lebih rendah dari perkiraan," kata Lukman saat dihubungi Ipotnews pagi ini.
Kondisi ini meningkatkan prospek pemangkasan suku bunga acuan oleh the Fed dalam FOMC bukan ini. Walau demikian, investor cenderung masih wait and see mengantisipasi beberapa data diantaranya penjualan ritel Indonesia dan inflasi konsumen AS.
"Kurs rupiah diperkirakan hari ini di kisaran Rp16.400 - Rp16.500 per dolar AS," ujar Lukman.
Inflasi produsen AS secara tak terduga turun pada Agustus untuk kali pertama dalam empat bulan, memperkuat alasan bagi Federal Reserve alias The Fed untuk memangkas suku bunga acuannya atau fed fund rate (FFR).
Menurut laporan Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) yang dirilis Rabu (10/9), indeks harga produsen (PPI) turun 0,1% dari bulan sebelumnya dan angka Juli direvisi turun. Dibandingkan tahun sebelumnya, PPI melesat 2,6%.
Laporan ini menunjukkan perusahaan-perusahaan menahan diri, tak mengerek harga secara signifikan bulan lalu meski biaya meningkat akibat tarif Presiden Donald Trump.
Walaupun penurunan ini mengikuti kenaikan yang signifikan pada Juli, banyak perusahaan khawatir bahwa kenaikan harga yang tajam dapat membuat pelanggan menjauh saat ketidakpastian ekonomi terus membebani keputusan belanja.(Adhitya/AI)

Sumber : admin

Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.
Reply 0

Leave Your Message Now

  • tradingContest