Pada hari Rabu (27/April), Biro Statistik Australia merilis data inflasi konsumen yang meningkat 5.1 persen secara tahunan (Year-over-Year) pada kuartal pertama 2022. Angka ini lebih tinggi ketimbang inflasi pada kuartal sebelumnya sebesar 3.5 persen, sekaligus melampaui ekspektasi ekonom yang memperkirakan kenaikan inflasi sebesar 4.6 persen. Dalam basis kuartalan (Quarter-over-Quarter), inflasi konsumen Australia tercatat naik 2.1 persen di sepanjang periode Januari-Maret, melampuai ekspektasi untuk kenaikan 1.7 persen saja setelah naik 1.3 persen pada kuartal sebelumnya.
Apabila dirinci lebih lanjut, lonjakan CPI negeri Kanguru yang cukup signifikan selama kuartal pertama disebabkan oleh kenaikan harga komoditas energi di pasar internasional. Biaya transportasi tercatat naik 13.7 persen secara tahunan, lalu disusul oleh biaya perumahan yang meningkat 6.7 persen dan biaya utilitas rumah tangga dengan kenaikan sebesar 4.9 persen dari tahun sebelumnya.
Selain itu, biaya pendidikan turut mengalami kenaikan 4.7 persen, diikuti oleh kenaikan 4.3 persen pada harga makanan dan biaya kesehatan yang meningkat 3.5 persen. Biaya rekreasi tercatat naik 3.0 persen dan harga alkohol meningkat 1.3 persen. Sementara itu, biaya untuk busana dan alas kaki mengalami penurunan 1.5 persen dan biaya komunikasi tercatat turun 0.8 persen secara tahunan.
Secara wilayah, kota Perth menjadi kawasan dengan kenaikan inflasi tertinggi sebesar 3.3 persen, diikuti kota Melbourne yang mengalami peningkatan 2.3 persen. Inflasi kota Canberra dan Brisbane masing-masing meningkat sebesar 2.2 persen. Sydney menjadi satu-satunya kawasan dengan pertumbuhan inflasi paling rendah yakni sebesar 1.7 persen.
Kenaikan inflasi konsumen Australia pagi ini berhasil mendorong penguatan dolar Australia terhadap greenback. Kondisi ini tercermin dari pergerakan pair AUD/USD yang berada pada kisaran 0.7153 atau menguat 0.46 persen secara harian. Lonjakan inflasi Australia semakin meningkatkan prospek kenaikan suku bunga RBA dalam waktu dekat yang akan mendukung pergerakan dolar Australia.
Tetapi, pelaku pasar melihat penguatan dolar Australia terhadap greenback kemungkinan akan berumur pendek. Pasalnya, The Fed dipoyeksikan akan melakukan rate hike sebesar 50 basis poin pada bulan Mei mendatang. Bahkan beberapa petinggi The Fed menyuarakan agar suku bunga dapat kembali diatas 2.0 persen pada akhir tahun nanti. Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed secara agresif inilah yang mendasari penguatan tajam dolar AS terhadap mata uang utama beberapa waktu terakhir.
Reprinted from SeputarForex,the copyright all reserved by the original author.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

-THE END-