Note

Perang Rusia-Ukraina Berlanjut, Pound Rebound Setengah Hati

· Views 52

Kurs GBP/USD berupaya menguat dalam perdagangan akhir pekan ini (25/2/2022), tetapi masih gagal menutup seluruh penurunan yang terjadi seusai merebaknya kabar tentang invasi Rusia ke Ukraina. Saat berita ditulis, GBP/USD ditutup pada level 1.3413. Sementara itu, EUR/GBP juga beranjak sampai level tertinggi delapan hari.

Perang Rusia-Ukraina Berlanjut, Pound Rebound Setengah Hati

Pasar keuangan agaknya berusaha memulihkan diri dari aksi jual spontan yang terjadi kemarin. Namun, konflik masih jauh dari usai. Para trader dan investor masih menelaah imbas dari berbagai sanksi yang dijatuhkan Barat atas Rusia, sekaligus menelisik perkembangan perang berikutnya. Sejumlah analis memperkirakan Presiden Rusia Vladimir Putin kemungkinan akan menggelar diskusi dengan Kyiv untuk menentukan “status netral” bagi negeri tersebut.

“Pasar berpikir hati-hati mengenai invasi lanjutan Rusia ke Ukraina yang membuat Barat memberikan sanksi tahap kedua yang bertujuan merusak keuangan Rusia dalam jangka panjang,” kata Joe Manimbo, Analis Pasar Senior di Western Union, “Suasana yang sedikit membaik telah membantu memulihkan mata uang Inggris dan Kanada dari rekor terendah dua bulan.”

Baca Juga:   EUR / USD Sedikit Berubah Di Tengah Harapan Untuk Kesepakatan Utang AS

Uni Eropa sejauh ini dianggap masih terlalu ringan dalam pengenaan sanksi. Salah satu contohnya, Italia membuat pengecualian bagi barang-barang mewahnya dalam semua paket sanksi ekonomi yang dijatuhkan NATO atas Rusia. Belgia juga menegosiasikan konsesi untuk ekspor berlian dalam paket sanksi itu. Selain itu, Jerman beserta sejumlah negara lain menolak usulan untuk mendepak Rusia dari platform pembayaran internasional SWIFT lantaran mereka membutuhkan sarana untuk membayar impor gas Rusia.

Keterkaitan ekonomi antara Eropa dan Rusia pun berpotensi menjadikan sanksi atas Rusia sebagai bumerang yang bakal ikut berimbas buruk bagi Eropa. Sejumlah analis menyuarakan prakiraan perlambatan pertumbuhan ekonomi di wilayah ini gegara berbagai sanksi yang dapat memperparah krisis energi. Situasi bahkan dapat semakin memburuk jika Uni Eropa, AS, dan sekutunya mengerahkan sanksi lebih berat, seperti mendepak Rusia dari SWIFT.

“Inflasi global akan meningkat karena gangguan rantai pasokan. Secara khusus, harga minyak menembus level USD 100/bbl pada 25 Februari dan kami percaya bahwa ada ruang untuk terus meningkat menuju kisaran USD 150-170/bbl,” kata Carlos Casanova, Ekonom Senior Asia di UBP.

Baca Juga:   Sterling Lanjutkan Pelemahan Pasca Rilis PMI Jasa Februari 2019

“Prospek ekonomi Inggris telah memburuk setelah invasi Rusia ke Ukraina. Kami telah menaikkan perkiraan kami untuk tingkat puncak inflasi CPI pada bulan April menjadi 8.0%, dari 7.7%,” kata Samuel Tombs, Kepala Ekonom Inggris di Pantheon Macroeconomics.

Bank-bank sentral utama kemungkinan bakal menghadapi situasi kenaikan inflasi yang berkepanjangan, sedangkan pertumbuhan ekonomi terancam stagnan atau bahkan melambat. Hal ini menumbuhkan keraguan tentang prospek kenaikan suku bunga ke depan yang dapat meningkatkan beban tanggungan masyarakat di tengah kenaikan harga-harga komoditas energi dan dampak ikutannya.

Disclaimer: The content above represents only the views of the author or guest. It does not represent any views or positions of FOLLOWME and does not mean that FOLLOWME agrees with its statement or description, nor does it constitute any investment advice. For all actions taken by visitors based on information provided by the FOLLOWME community, the community does not assume any form of liability unless otherwise expressly promised in writing.

If you like, reward to support.
avatar

Hot

No comment on record. Start new comment.