Note

Rusia Menyerbu Ukraina, Dolar Loncat Ke Tertinggi 2 Tahun

· Views 35

Indeks dolar AS (DXY) meloncat ke level tertinggi dua tahun pada 97.73 dalam perdagangan hari ini (24/2/20222), menyusul kabar tentang serangan rudal Rusia atas Ukraina. Dalam kurun waktu yang sama, euro dan rubel terjun bebas seiring dengan maraknya aksi risk-off di pasar global.

Rusia Menyerbu Ukraina, Dolar Loncat Ke Tertinggi 2 Tahun

Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan serangan militer ke sejumlah kota besar Ukraina melalui jalur darat, laut, dan udara. Ini merupakan operasi militer terbesar atas sebuah negara di benua Eropa sejak Perang Dunia Kedua.

Kubu Barat mengecam keras aksi militer Rusia. Presiden AS Joe Biden juga mengumumkan sanksi baru terhadap beberapa entitas penting asal Rusia, termasuk perbankan. Konsekuensinya, eskalasi konflik di Ukraina berimbas luas terhadap pasar ekuitas, mata uang, obligasi, dan komoditas.

Mata uang-mata uang safe haven klasik seperti dolar AS, yen Jepang, dan franc Swiss mengalami penguatan. Sedangkan euro, pound sterling, bersama mata uang-mata uang komoditas rontok berjamaah.

“Kita mengalami perkembangan geopolitik besar yang belum pernah dilihat banyak orang dalam hidup mereka; (jadi) ini aksi risk-off klasik,” kata Erik Bregar, direktur manajemen risiko FX & logam mulia di Silver Gold Bull Inc, “Ada dorongan dan tarikan seputar mata uang mana yang menjadi safe haven terbesar saat ini.”

Baca Juga:   Aussie Turun Setelah Setelah Data Harga Konsumen Datang Lebih Lemah

Kemerosotan paling parah terjadi atas rubel Rusia yang runtuh nyaris 5 persen versus greenback. EUR/USD juga sempat terperosok lebih dari 1 persen. Posisi mata uang negara-negara yang terlibat dalam perang kali ini masih cenderung tertekan hingga saat berita ditulis.

“Situasi masih sangat cair. Berpegang pada dampak pasar (biaya manusia, meskipun sangat tragis, berada di luar cakupan yang kami amati), ini adalah peristiwa inflasioner,” kata Bipan Rai, kepala strategi FX Amerika Utara di CIBC Capital Markets, “Hal-hal berikutnya yang harus diperhatikan: i) apakah putaran sanksi berikutnya akan menargetkan ekspor komoditas/energi utama dari Rusia, ii) apakah Rusia akan terputus dari SWIFT, dan iii) bagaimana Rusia menanggapi sanksi (kontrol ekspor?). Prediksi kami (ke depan) akan didasarkan pada bagaimana hal-hal itu berkembang. Itu saja yang bisa saya katakan untuk saat ini.”

Disclaimer: The content above represents only the views of the author or guest. It does not represent any views or positions of FOLLOWME and does not mean that FOLLOWME agrees with its statement or description, nor does it constitute any investment advice. For all actions taken by visitors based on information provided by the FOLLOWME community, the community does not assume any form of liability unless otherwise expressly promised in writing.

If you like, reward to support.
avatar

Hot

No comment on record. Start new comment.