
Harga emas kembali tertekan dan turun ke sekitar US$4.685 per troy ounce pada awal sesi perdagangan Asia, Selasa. Penurunan ini terjadi di tengah sikap pelaku pasar yang cenderung menunggu kepastian dari dua faktor besar: kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan perkembangan konflik di Timur Tengah.
Dari sisi kebijakan moneter, pasar memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%–3,75% dalam pertemuan terdekat. Fokus utama investor kini tertuju pada pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, yang dinilai bisa memberikan sinyal arah kebijakan selanjutnya. Jika nada yang disampaikan cenderung agresif (hawkish), dolar AS berpotensi menguat dan semakin menekan harga emas.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik juga masih membayangi pasar. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran, khususnya terkait penutupan Selat Hormuz, mendorong kenaikan harga minyak dan memicu kekhawatiran inflasi global. Laporan terbaru menyebutkan bahwa Donald Trump tengah membahas proposal dari Iran yang menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz, dengan syarat blokade dihentikan dan konflik berakhir. Namun, belum ada kepastian apakah proposal tersebut akan diterima, sehingga ketidakpastian tetap tinggi.
Kombinasi antara potensi suku bunga tinggi lebih lama dan ketegangan geopolitik membuat emas kehilangan daya tariknya. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas cenderung tertekan ketika suku bunga tinggi dan dolar AS menguat.
Untuk sementara, arah pergerakan emas masih akan sangat dipengaruhi oleh hasil keputusan The Fed dan perkembangan negosiasi antara AS dan Iran.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

-THE END-