
Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan terbatas pada awal perdagangan Rabu (15/4). Mata uang Garuda berada di level Rp17.123 per Dolar AS, naik tipis sekitar 4 poin atau 0,02 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia terlihat beragam. Baht Thailand, Peso Filipina, dan Won Korea Selatan mencatat penguatan, sementara Yen Jepang dan Yuan China justru melemah. Dolar Singapura menguat tipis, sedangkan Dolar Hong Kong mengalami sedikit tekanan. Di pasar global, mayoritas mata uang utama bergerak melemah terhadap Dolar AS. Euro dan Franc Swiss turun tipis, sementara Poundsterling mencatat penguatan sangat terbatas.
Analis menilai penguatan rupiah didorong oleh melemahnya Dolar AS di pasar global. Tekanan terhadap Dolar terjadi setelah rilis data inflasi produsen Amerika Serikat yang lebih rendah dari ekspektasi, sehingga meredam kekuatan USD. Selain itu, penurunan harga minyak mentah juga turut memberikan sentimen positif bagi rupiah. Hal ini terjadi seiring munculnya harapan baru terkait kemungkinan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang berpotensi meredakan ketegangan geopolitik.
Meski demikian, penguatan rupiah diperkirakan tidak akan terlalu signifikan. Sentimen domestik yang masih lemah serta sikap wait and see investor menjelang hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia menjadi faktor penahan.
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diproyeksikan bergerak dalam kisaran Rp17.050 hingga Rp17.200 per Dolar AS, dengan volatilitas yang masih cukup tinggi mengikuti perkembangan global dan domestik.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

-THE END-