
Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan rekor terendah sepanjang sejarah. Pada Selasa (14/4) sekitar pukul 10.40 WIB, rupiah berada di level Rp17.142 per Dolar AS, melemah sekitar 37 poin atau 0,22 persen dari posisi pembukaan. Level ini melampaui rekor sebelumnya, di mana penutupan terlemah berada di kisaran Rp17.090 per Dolar AS, dengan pergerakan intraday yang sempat menyentuh sekitar Rp17.130.
Menariknya, pelemahan rupiah kali ini tidak sepenuhnya dipicu oleh faktor global. Di tengah turunnya harga minyak dunia, mayoritas mata uang regional dan global justru menguat terhadap Dolar AS. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih banyak berasal dari faktor domestik.
Analis menilai sentimen dalam negeri saat ini masih cukup lemah. Kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi menjadi salah satu pemicu utama, terutama terkait defisit anggaran yang terus melebar, potensi penurunan outlook pertumbuhan ekonomi, hingga cadangan devisa yang dinilai mengalami penurunan. Selain itu, surplus perdagangan yang semakin menyempit juga turut menambah tekanan.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia yang sempat menembus level US$100 per barel tetap memberi dampak tambahan. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia membutuhkan lebih banyak Dolar AS untuk memenuhi kebutuhan energi, sehingga meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Dengan kombinasi faktor eksternal dan domestik tersebut, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut dalam waktu dekat. Bahkan, ada proyeksi bahwa nilai tukar bisa melemah hingga menyentuh kisaran Rp17.400 per Dolar AS jika kondisi tidak membaik.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

-THE END-